Foto: Koran SI
JAKARTA - Pemerintah bertugas mendorong industri domestik untuk mampu memenangi persaingan pasar bebas serta menciptakan lapangan kerja.
"Di masa datang, kawasan Asia memiliki peran yang sangat penting karena kekuatan ekonomi akan bergeser dari Amerika Serikat dan Eropa Barat ke Asia, sehingga Indonesia memiliki peluang sebagai potensi kekuatan ekonomi di luar China dan India," kata pengamat ekonomi Umar Juoro dalam acara Indonesia Economic Plans: Challenges & Prospects, di Financial Club Graha Niaga, Jakarta, Kamis (25/2/2010) kemarin.
Faktanya memang sudah sejak zaman dulu bangsa Indonesia terbiasa menjalin perdagangan dengan bangsa China, India, Arab, dan Eropa.
Oleh karena itu, pemerintah dinilai tetap menjalankan kesepakatan ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA) dengan berupaya menunda pelaksanaan tarif nol persen untuk beberapa jenis produk tertentu dari China.
Ini terjadi meskipun ada tekanan dari kalangan pengusaha industri di Indonesia agar pelaksanaan ACFTA ditunda karena berdampak buruk terhadap produk industri domestik.
Terkait peran Indonesia sebagai potensi kekuatan ekonomi terbesar di Asia maka kebijakan pemerintah dalam kesepakatan ACFTA dipandang sudah tepat karena akan mendorong investor China untuk aktif berinvestasi di Indonesia.
"Produk Indonesia yang dapat bersaing dalam pasar bebas perlu difasilitasi lebih lanjut oleh pemerintah, sehingga tidak menutup kemungkinan membuka aliansi strategis dengan perusahaan China atau perusahaan lainnya dalam memanfaatkan perdagangan bebas saat ini," ungkapnya.
Perdagangan bebas memberikan keuntungan bagi konsumen dengan banyaknya barang yang ditawarkan dan harga yang lebih murah. Di sisi lain, pendapatan pemerintah dari segi tarif akan mengalami penurunan. (ade)