Foto : Corbis.com
WASHINGTON - Asosiasi Agen Perumahan Nasional (National Association of Realtors) Amerika Serikat (AS) memaparkan, penjualan rumah pada Januari 2010 turun 7,2 persen menjadi 5,05 juta dari 5,44 juta pada Desember 2009.
Padahal para ekonom mengharapkan kenaikan ke tingkat 5,5 juta. Penjualan pemilikan rumah yang anjlok ke level terendah pada Januari lalu merupakan bukti bahwa tingginya tingkat pengangguran dan standar pinjaman ketat masih menjadi penghambat upaya pemerintah untuk menopang pasar. Demikian disiarkan AP, Sabtu (27/2/2010).
Hasil penjualan kali ini yang merupakan penjualan terlemah sejak Juni 2009, jauh lebih buruk daripada perkiraan sebelumnya. Ini juga membuktikan, tanpa dukungan pemerintah, pemulihan penjualan perumahan akan lesu.
Pemerintah AS telah menghabiskan miliaran dolar untuk menjaga tingkat hipotek tetap rendah dan memberikan potongan pajak pembeli. Namun kedua program tersebut disinyalir segera diakhiri
pada musim semi ini.
"Sebagian besar perbaikan yang kita lihat dalam perumahan selama tahun lalu tak terlepas dari program pendukung," kata Ekonom Wells Fargo, Mark Vitner.
Namun sejak dikabarkan program-program stimulus tersebut akan berakhir, Mark berpendapat kondisi pasar perumahan kian melemah, jauh dari perkiraan banyak orang.
Menurut seorang agen perumahan, Danny Frank, konsumen masih khawatir dengan goncangan ekonomi dan kini harus kembali menghadapi rintangan dalam upaya memenuhi persyaratan untuk peminjaman rumah. "Orang-orang sekarang ketakutan," imbuhnya.
Meski tenggat waktu kredit pajak untuk pembeli pertama telah diperpanjang, penjualan rumah tetap melesu selama musim dingin ini. Padahal tadinya tenggat waktu kredit pajak direncanakan berakhir pada 30 November 2009 sehingga menyebabkan gelombang penjualan pada musim gugur lalu meningkat.
Tapi kemudian Kongres memperpanjang tenggat waktu sampai 30 April 2010. Para pengamat mengatakan, sejauh ini perpanjangan masa tenggat kredit tersebut tidak memiliki dampak besar. (rhs)