Foto: Reuters
WASHINGTON - Buruh mengharapkan kondisi yang lebih baik lagi di bawah kepemimpinan Presiden Barack Obama dan Kongres Demokrat. Namun, kondisi tersebut kian meredup, karena keraguan mulai muncul saat serikat pekerja di sejumlah perusahaan Amerika Serikat (AS) kembali mendesak untuk perbaikan kesehatan mereka ke depannya.
Seperti dikutip dari Assosiated Press, Minggu (28/2/2010), Serikat pekerja AS, meminta agar perbaikan kesehatan sebagai syarat dan tujuan utama di bidang tenaga kerja dapat diperbaiki dan bagian dari rancangan undang-undang (RUU) sehingga memudahkan untuk mengorganisir serikat-serikat pekerja. Sebuah pekerjaan bipartisipasi agar RUU akan di bahas pekan depan oleh Senat sangat menarik pujian dari Presiden AFL-CIO Richard Trumka, yang menyebutnya sebagai "Band-Aid pada anggota tubuh diamputasi", setidaknya ada beberapa hal yang masih jauh dari apa yang diinginkan serikat pekerja.
Ini bukan apa yang diharapkan serikat pekerja setahun yang lalu setelah menghabiskan lebih dari USD400 juta untuk membantu memilih Obama dan meningkatkan ukuran mayoritas Demokrat di Senat dan House.
Indikasi bakal gagalnya reformasi sistem kesehatan kian menguat. Setelah kehilangan suara mayoritas di senat, Partai Demokrat melirik House of Representatives (DPR) sebagai jalur alternatif menggolkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Kesehatan tersebut. Tapi, DPR pun tidak akan semudah itu meloloskan reformasi hasil rumusan kubu Presiden Barack Obama tersebut.
Demokrat akan tetap berusaha mengajukan dengan strategi yang tepat. Salah satunya, dengan merevisi RUU tersebut. Sebab, tanpa revisi, mustahil RUU itu akan direstui DPR. Apalagi, sejumlah politisi Demokrat di DPR juga kurang berkenan pada beberapa pasal dalam RUU Kesehatan itu.
Pasal-pasal yang dianggap tidak populis di antaranya adalah yang berkaitan dengan rancangan pajak kesehatan dan kebijakan memakai dana federal untuk aborsi. Rencana Obama memberlakukan pajak bagi asuransi high-cost ditentang keras oleh serikat-serikat buruh AS. Sementara, kebijakan soal aborsi dengan dana pemerintah dianggap terlalu longgar.
Sebenarnya, Demokrat masih punya cara lain untuk menggolkan RUU Kesehatan tersebut. Jalurnya pun tetap melalui senat, dan tidak memerlukan dukungan mayoritas 60 suara. Yakni, lewat prosedur rekonsiliasi. Hanya dengan 51 suara, Demokrat bisa mewujudkan reformasi kesehatan versi mereka. Tapi, Demokrat tetap harus berkompromi dengan kubu Republik pada beberapa pasal inti. Sayangnya, prosedur tersebut membutuhkan dana yang besar dan cenderung tidak dilirik. (css)