Menkeu Sri Mulyani. Foto: Heru Haryono/Okezone.com
JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, data inflasi Februari yang diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) sebesar 0,3 persen merupakan siklus yang dipengaruhi oleh bahan pangan terutama beras menjelang panen lagi pada April.
"Seperti yang telah disebutkan kemarin atau bulan lalu kan ini siklus untuk bahan pangan terutama beras menjelang panen lagi pada April, jadi Januari dan Februari kita akan menahan laju terutama yang berasal dari faktor harga pangan," ujar Sri Mulyani, saat ditemui wartawan, di Istana Negara, Senin (1/3/2010).
Dijelaskannya, dari sisi stok dan jumlah yang ada di masyarakat dan tindakan pemerintah dalam operasi pasar yang sudah dilakukan Badan Urusan Logistik (Bulog), seharusnya beberapa bulan terakhir ini respons dari harga beras di pasar itu sudah mulai stabil. "Itu yang kita harapkan semoga tidak banyak kontribusinya, meskipun BPS mengatakan tetap menjadi faktor penting," ungkapnya.
Sri Mulyani juga mengharapkan jika pergerakan rupiah yang masih labil di kisaran Rp9.300 per USD tidak mempengaruhi inflasi. "Faktor lain, kita harap rupiah relatif masih agak stabil di dalam kisaran yang selama ini tidak menimbulkan dampak inflasi yang berasal dari sisi impor," pungkasnya.
Sebelumnya, BPS mencatatkan inflasi untuk Februari 0,3 persen. Penyebab inflasi adalah kenaikan harga beras yang memberikan sumbangan sebesar 0,13 persen dari inflasi sebesar 0,3 persen.
"Februari 2010, inflasi kita lebih rendah dari Februari 2009 sebesar 1,14 persen (YoY). Penyebabnya adalah kenaikan harga beras yang memberikan sumbangan sebesar 0,13 persen dari inflasi sebesar 0,3 persen, karena belum ada panen yang cukup berarti sehingga ini mempengaruhi psikologis pasar beras kita," ungkapnya.
Selain beras, cabe rawit juga memberikan sumbangan bagi inflasi sebesar 0,02 persen. "Cabe rawit juga mempengaruhi inflasi bulan ini, karena musim hujan terus menerus, sehingga produksi dan suplai berkurang menyumbang 0,02 persen," ujarnya. (css)
(Iman Rosidi/Trijaya/ade)