JAKARTA - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan menilai kenaikan nilai ekspor Indonesia ke China pada Januari 2010 bukan karena pemberlakuan perjanjian ACFTA.
"Kita masih belum bisa katakan itu pengaruh dari FTA, jadi belum. Itu kan dibuka Januari," ujarnya setelah mengumumkan angka Inflasi Februari 2010, di kantor BPS, Jakarta, Senin (1/3/2010).
Namun dirinya optimistis, pemberlakuan ACFTA tersebut bukanlah sebagai ancaman apabila masyarakat Indonesia dan pemerintah justeru melihat peluang untuk meningkatkan ekspor akan memperkecil defisit neraca perdagangan.
Pada saat pemberlakuan ACFTA, neraca perdagangan Indonesia memang sudah defisit. "Pokoknya kalau kita melihat itu ancaman, bisa amburadul, tapi belum tentu kalau cerdas memanfaatkan peluang," jelasnya.
Berdasarkan data yang dipaparkan BPS, nilai ekspor Januari 2010 mencapai USD11,57 miliar atau turun 13,29 persen dibanding Desember 2009. Sementara bila dibanding Januari 2009 naik 58,99 persen.
Untuk ekspor non-migas Januari 2010 mencapai USD9,23 miliar atau turun 14,87 persen dibanding Desember 2009. Dan bila dibanding ekspor Januari 2009 naik 47,6 persen.
Menurut urutan negara ekspor, ekspor non migas terbesar tercatat ke Jepang USD1,32 miliar, disusul Cina USD1,01 miliar, dan Amerika Serikat USD997,7 juta. Dengan kontribusi ketiganya mencapai 36,01 persen dan ekspor ke Uni Eropa (27 negara) sebesar USD1,05 miliar.
Sementara untuk nilai impor Januari 2010 mencapai USD9,54 miliar atau turun 7,35 persen dibanding Desember 2009 yang besarnya USD10,3 miliar. Namun jika dibanding Januari 2009, nilainya meningkat USD2.942,7 juta atau 44,58 persen.
Impor non migas Januari 2010 mencapai USD7,59 miliar atau turun USD618,4 juta atau 7,54 persen dibanding impor Desember 2009, sedangkan jika dibanding bulan yang sama 2009 terjadi peningkatan USD2.266,9 juta atau 42,62 persen.
Impor migas Januari 2010 mencapai USD1,96 miliar atau turun USD138,2 juta atau 6,6 persen dibanding impor Desember 2009. Sebaliknya terjadi peningkatan USD675,8 juta atau 52,74 persen dibanding Januari 2009.
Berdasarkan negara pemasok impor non migas terbesar selama Januari 2010 masih ditempati Cina dengan nilai USD1,41 miliar dengan pangsa 18,56 persen, Jepang USD1,07 miliar dengan pangsa 14,12 persen, dan Singapura USD0,78 miliar dengan pangsa 10,34 persen.
Total impor non-migas dari ASEAN mencapai 22,41 persen dan Uni Eropa 8,91 persen. Adapun nilai defisit antara ekspor dan impor non-migas ke Cina yang tercatat pada Januari 2010 sebesar USD397 juta.
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.