Foto: Corbis
NEW YORK - Harga minyak mentah kembali melemah setelah sempat menyentuh level USD80 per barel, pada perdagangan awal pekan Senin (1/3/2010), seiring dengan penguatan dolar Amerika.
Seperti dikutip dari Xinhua, Selasa (2/3/2010), harga minyak yang masih berfluktuasi, dipicu oleh harapan para investor bahwa pemulihan ekonomi akan memperbaiki permintaan global, terutama pada China dan negara-negara berkembang lainnya.
Harga minyak sempat menyentuh level USD80,62 per barel pada perdagang Senin (1/3/2010) di Nymex, sebelum turun ke USD78,7 atau setara 96 sen dolar Amerika. Dalam beberapa pekan terakhir, harga minyak sempat menembus level USD80 per barel. Sedangkan di London, harga Brent turun 70 sen dolar Amerika ke USD76,89 pada ICE futures.
Penguatan dolar AS terhadap mata uang utama dunia lainnya, menekan harga minyak. Pasalnya, minyak diperdagangkan dengan menggunakan dolar AS pada pasar global dan menjadi mahal bagi pemegang mata uang lainnya kala dolar AS menguat.
Sekedar mengingatkan, harga minyak mencatat kenaikan lagi hingga di atas USD80 per barel di perdagangan Asia pekan lalu ditopang oleh melemahnya dolar dan tanda-tanda menguatnya ekonomi AS
Para investor pemegang mata non-dolar rupanya terpengaruh oleh data menguatnya indeks dolar (DXY) dalam perdagangan valuta sebesar 0,6 persen menjadi 80,91 poin. Ini membuat harga komoditas seperti minyak menjadi mahal bagi investor pemegang non dolar.
Harga minyak pun juga ditekan oleh laporan bahwa kinerja manufaktur di AS Februari lalu ternyata lebih rendah dari bulan sebelumnya. Ini merujuk hasil survei lembaga Institute for Supply Management bahwa indeks manufaktur bulan lalu turun, dari 58,4 di bulan Januari menjadi 56,5 poin.
(css)