Getting time...

BUMN Desak Perbankan Turunkan Bunga Kredit

Candra Setya Santoso - Okezone
Selasa, 2 Maret 2010 13:16 wib
Ilustrasi. Foto: Corbis
Ilustrasi. Foto: Corbis
JAKARTA - Kementerian BUMN mendesak perbankan untuk segera menurunkan bunga kreditnya. Pasalnya likuiditas sudah membanjir dan bunga acuan terus turun, namun bunga kredit di bank tak terusik.

Bunga kredit yang tidak kunjung turun ini karena para bankir ingin menikmati pendapatan bunga bersih atau net interest margin (NIM) yang lebih tinggi.

"Saya kira, ini imbauan baik kalau bank-bank pemerintah sebagai motivator penurunan bunga kredit saya setuju. NIM seharusnya di kisaran 5-5,5 persen," ujar Menteri BUMN Mustafa Abubakar, saat ditemui wartawan, seusai acara rapat kerja nasional (Rakernas) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), di Hotel Ritz Carlton, Kuningan, Jakarta, Selasa (2/3/2010).

NIM merupakan selisih antara bunga simpanan dan bunga kredit. Di atas kertas, saat bunga simpanan turun, NIM tak akan berubah, jika bank juga menurunkan bunga kredit dengan besaran yang sama.

Seperti diberitakan sebelumnya, Bank Indonesia (BI) dengan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Kementerian BUMN belum menemui titik temu dalam upaya untuk menurunkan suku bunga perbankan. Penurunan suku bunga itu untuk meningkatkan daya saing industri.

Keinginan kalangan industri yang meminta penurunan suku buku bank tidak bisa dilakukan dengan segera oleh kalangan perbankan. Pasalnya terdapat banyak hal yang menjadi pertimbangan di antaranya memperbaiki struktur biaya perbankan. (ade)
TWITTER »
twit