Ilustrasi. Foto: Corbis
JAKARTA - Peluang korporasi untuk menerbitkan obligasi berdenominasi dolar AS nampaknya sudah mulai terbuka saat ini, mengingat biaya untuk menerbitkan obligasi dolar lebih murah daripada obligasi rupiah.
"Kan beda interest rate antara di Indonesia dan di AS tinggi," jelas Direktur Utama PT Danareksa (Persero) Edgar Eka Putra, usai acara pembukaan sekolah pasar modal, di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (3/3/2010).
Walaupun discount rate di AS sudah naik menjadi 0,75 persen, tapi tingkat suku bunga acuan di AS (Fed Fund Rate) saat ini sebesar 0,25 persen. Sementara tingkat suku bunga acuan di Indonesia (BI rate) adalah sebesar 6,5 persen.
Walau demikian, perusahaan (emiten) harus tetap mengutamakan pruden dalam wacana penerbitan obligasi tersebut. Konkritnya, jika pendapatan perusahaan dibukukan dalam mata uang rupiah, maka lebih baik perusahaan menerbitkan obligasi rupiah.
"Kalau revenue dalam mata uang rupiah, tidak perlu pinjam dalam dolar. Tapi kalau punya ekspor yang banyak silahkan pilih dolar, atau kalau punya revenue dolar silahkan terbitkan obligasi dolar," jelasnya lagi. (ade)