Getting time...

PPA Akui Selamatkan Enam BUMN

Candra Setya Santoso - Okezone
Rabu, 3 Maret 2010 12:50 wib
Logo PPA. Dok PPA
Logo PPA. Dok PPA
JAKARTA - PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) hingga awal 2010 mendapat 18 "pasien" yang patut disembuhkan. Hingga saat ini terdapat enam BUMN yang rencananya bakal direstrukturisasi dalam Komite yang dipimpin Menteri BUMN.

Keenam perusahaan yang di maksud yakni PT Merpati Nusantara Airlines, PT PAL Indonesia, PT Industri Gelas, PT Semen Kupang, PT Waskita Karya, dan PT Balai Pustaka.

"Setidaknya masih terdapat enam BUMN yang sudah diteken dan sudah kita diselamatkan," kata Direktur Utama PPA Boyke Mukizat, saat berbincang dengan wartawan, di Jakarta, Rabu (3/3/2010).

Adapun untuk 18 BUMN tersebut kondisinya dinilai cukup memprihatinkan sehingga butuh penanganan khusus dengan pola restrukturisasi. Boyke pun belum bersedia mengidentifikasi ke-18 BUMN yang bakal menjadi "pasien" PPA pada tahun ini, karena masih dalam tahap identifikasi untuk selanjutnya disampaikan kepada Tim Privatisasi dan Restrukturisasi BUMN.

Saat ini, sederet nama yang masuk daftar 18 perusahaan restrukturisasi PPA antara lain PT Merpati Nusantara Airlines, PT PAL Indonesia, PT Industri Gelas, PT Djakarta Dloyd, PT Hotel Indonesia Natour, PT Semen Kupang, PT Kertas Kraft Aceh.

Selanjutnya PT Waskita Karya, PT Balai Pustaka dan PT Industri Sandang, selain juga ditugasi merestrukturisasi anak perusahaan Pertamina di bidang usaha non-inti.

Menurut Boyke, saat ini restrukturisasi yang sudah rampung meliputi Merpati dengan suntikan dana Rp300 miliar, dan PT PAL Indonesia sebesar Rp450 miliar. Adapun yang dalam proses penyelesaian yaitu KKA Rp125 miliar, Industri Sandang Rp25 miliar, dan Waskita Karya Rp475 miliar.

Untuk menjalankan tugasnya, pada 2008 PPA mendapat modal kerja Rp1,5 triliun, dan tambahan sebesar Rp1 triliun pada 2009. "Dana yang dibutuhkan pada tahun depan (2010) akan disesuaikan dengan kapasitas kerja perusahaan. Pada APBN 2010 dianggarkan sebesar Rp1 triliun," ujarnya.

Sesungguhnya, ujar Boyke, masalah yang dihadapi BUMN adalah jumlah karyawan yang sangat besar. "Selain overstaffing, BUMN juga terkendala pada penerapan teknologi yang masih kuno, sehingga memicu tingginya biaya operasional," tegasnya.

Banyak BUMN memiliki aset besar tetapi tidak mendapat pembiayaan perbankan. "Kita berupaya merstrukturisasi sehingga perusahaan yang ditangani lebih bankable (layak dibiayai bank)," katanya.

Karena itu, untuk memperkecil biaya operasional harus ditempuh sejumlah langkah antara lain mengurangi jumlah tenaga kerja, dan menjual aset yang tidak produktif, ataupun menyuntik dana. Mulai tahun ini, kata Boyke, PPA tidak lagi mendatangi satu per satu BUMN untuk dijadikan "pasien", tetapi berdasarkan inisiatif perusahaan yang bersangkutan. (ade)
TWITTER »
twit