Ilustrasi. Foto: Corbis
JAKARTA - Perbankan merasa kesulitan untuk menurunkan bunga kredit di bawah 10 persen atau single digit. Hal itu disebabkan biaya dana perbankan sudah cukup tipis.
"Itu susah untuk menurunkan bunga kredit single digit. Kami sudah cukup menekan biaya dana sehingga bunga kredit di level sekarang sudah cukup rendah," ungkap Wakil Direktur Bank Danamon Joseph Luhukay, saat Gathering Media di Resto Jun Njan Grand Indonesia Jakarta, Rabu (3/3/2010).
Kalangan industri menekan perbankan agar mau menurunkan bunga kredit single digit. Hal itu untuk mendorong permintaan kredit di perbankan sehingga akan menumbuhkan perekonomian Indonesia ke depan.
Untuk menekan bunga kredit itu, perbankan harus menekan lagi biaya dana (cost of fund), biaya operasional, marjin keuntungan dan premi resiko. Dan tampaknya, perbankan masih belum mau menurunkan biaya tersebut agar lebih efisien.
"Kecuali nasabah tidak meminta bunga di tabungan atau giro. Atau minimal menekan bunga di dana murah tersebut. Sehingga akan menurunkan biaya dana perbankan," tambahnya.
Sehingga nasabah harus mau memindah instrumen investasi dari dana murah ke produk investasi lainnya. Misalnya reksadana atau produk unitlink (produk tabungan plus asuransi).
Dengan perpindahan portofolio produk investasi tersebut, perbankan bisa menekan bunga investasi di dana murah. Automatis menekan biaya dana sehingga akan menurunkan bunga kredit.
"Masalahnya, apa masyarakat mau memindahkan dana investasinya dari dana murah ke produk investasi lain. Buktinya dana murah di perbankan naik terus. Kita susah, yang atas menekan, yang bawah juga menekan," pungkasnya. (Didik Purwanto/Koran SI/ade)