Getting time...

China Bangun Zona Ekonomi Khusus di Mesir

Kamis, 4 Maret 2010 08:36 wib
Ilustrasi. Foto: Corbis
Ilustrasi. Foto: Corbis
SHANGHAI - Pemerintah China akan membangun pusat zona investasi baru di Mesir untuk mempermudah akses pasar ke Eropa, Afrika, dan Timur Tengah.

Menurut surat kabar Financial Times, saat ini Mesir tengah bernegosiasi dengan Pemerintah China melalui Tianjin Economic-Technological Development Area (TEDA).

Pusat investasi baru itu menurut rencana berlokasi di selatan Terusan Suez. Berdasarkan aturan yang berlaku di Mesir, perusahaan China akan menguasai maksimal 49 persen saham dari total investasi USD1,5 miliar zona ekonomi tersebut.

“Zona ekonomi Suez akan menjadi yang pertama dan memungkinkan para investor besar terhubung di sini,” kata Menteri Investasi Mesir Mahmoud Mohieldin kemarin.

Dia menambahkan bahwa kesepakatan akhir kerja sama tersebut akan dicapai dalam waktu dekat. Sayangnya, TEDA belum memberikan konfirmasi terkait rencana tersebut. Mohieldin memperkirakan, dalam tiga tahun pertama zone ekonomi khusus tersebut bisa menyerap investasi sebesar USD3,5 miliar.

Adapun sektor yang menjadi incaran China adalah sumber daya alam seperti energi untuk memenuhi kebutuhan domestiknya. Laporan Financial Times menyebutkan, China tertarik proyek tersebut untuk meningkatkan perdagangan Negeri Panda dengan Mesir yang akan menjadi pintu masuk ke kawasan Eropa, Afrika, dan Timur Tengah.

“TEDA telah menjadi mitra perusahaan multinasional seperti Akzo Nobel, IBM, dan Toyota diperkirakan membuka kantor pemasaran mereka di Mesir pada Juni ini,” tulis surat kabar tersebut.

Menteri Komunikasi dan Informasi Mesih Tarek Kamel menyatakan, kerja sama China dengan Mesir di Terusan Suez akan memberikan keuntungan kepada kedua negara, termasuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi warga Mesir. “Mereka bisa memanfaatkan pertumbuhan pasar, tapi juga bisa membatu kami dengan pembangunan sosial ekonominya,” katanya.

Transaksi Swap Capai USD170 Miliar

Perbankan komersial China berhasil menyerap dana sebesar USD170 miliar dari perdagangan mata uang asing sepanjang 2009. Pendapatan terbesar terutama berasal dari swap mata uang yuan dengan dolar Amerika Serikat (USD).

Shanghai Securities News yang mengutip mantan Deputi Kepala Biro Pajak Nasional Xu Shanda menyatakan bahwa Pusat Administrasi Perdagangan Mata Uang (SAFE) mencatatkan penyerapan swap di China mencapai satu triliun yuan.

Xu memperkirakan, dana swap tersebut bisa meningkat hingga USD500 miliar tahun ini dari total USD3 triliun dana swap dari sistem keuangan global. Sementara itu, empat besar perbankan komersial milik Pemerintah China dilaporkan telah mengucurkan kredit sebesar 300 miliar yuan sepanjang Februari lalu atau naik 34 persen dibanding Januari.

Empat bank tersebut adalah Industrial and Commercial Bank of China,Bank of China, China Construction Bank,dan China Agriculture Bank. Para ahli yang dimintai komentar oleh People Daily Online memperkira kan, total pinjaman perbankan bulan lalu bisa mencapai 600 miliar yuan. (yanto kusdiantono) (Koran SI/Koran SI/ade)
TWITTER »
twit