Investor Singapura Tertarik Investasi di Indonesia

Sabtu, 6 Maret 2010 12:03 wib
Foto: Corbis
Foto: Corbis
JAKARTA - Singapura tertarik untuk melakukan investasi di Indonesia. Lebih dari 10 investor asal negeri Singa akan mengeluarkan dana  sebanyak Rp500 miliar hingga Rp700 miliar di Indonesia.

"Investor asal Singapura yang dominan berskala menengah tertarik membangun proyek patungan (joint venture) dengan pengusaha Indonesia. Jadi, kedatangan mereka selain untuk mencari raw material, juga  partner untuk joint venture," kata  Ketua Kadin Indonesia Komite Singapura Iwan Dermawan Hanafi di Jakarta kemarin.

Proyek joint venture itu, lanjut dia,  akan difokuskan pada 10 sektor industri yang meliputi, chemical, minyak dan gas, permesinan, industri perhiasan, jasa penyimpanan dingin (cold storage) dan jasa pergudangan, EO dan jasa perdagangan dunia, sistem pemompaan, manajemen industri, industri kaca pengaman, dan industri otomasi.

"Sebagian besar dari mereka perusahaan yang masih baru dan belum eksis di Indonesia, walaupun ada salah satu seperti Sembawang Corporation," ujarnya.

Iwan menargetkan, investasi tersebut dapat terealisasi pada tahun 2010.

Sementar itu, Duta Besar Indonesia untuk Singapura Wardhana mengakui, pihaknya berusaha untuk mendorong agar investor Singapura agar mau masuk di luar Jakarta, karena peluangnya masih besar.

"Saya tawarkan untuk masuk di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Utara untuk industri pariwisata, Sumatera Utara di industri agrikultur, dan Sulawesi Selatan," kata Wardhana.

Wardhana mengungkapkan, Singapura merupakan investor nomor satu di Indonesia. "Dari segi nilai foreign direct investment (FDI) pada Januari-September 2009, Singapura merupakan investor nomer satu. Nilainya mencapai USD3,9 miliar dari 143 proyek dan berhasil membuka 45 ribu lapangan pekerjaan," ungkap dia.

Keuntungan ACFTA


Di sisi lain, dalam menghadapi implementasi ACFTA (ASEAN China Free Trade Area), pengusaha Singapura memandangnya sebagai isyarat positif dan menguntungkan.

"Terutama karena kita negara trader, produksi kita tidak sebanyak Indonesia. Jadi, kebanyakan ekspor kita bebas BM. Tapi kita juga akan tingkatkan kerjasama dengan negara produsen," kata Mission leader and SMa President Renny Yeo.

Menurutnya, dalam mengantisipasi dampak ACFTA, pemerintah Singapura menerapkan kebijakan produktifitas pekerja dengan menaikkan anggaran pelatihan bagi tenaga kerja sebesar 90 persen.

Menurut Renny, tidak ada jalan lain melawan persaingan yang ketat kecuali menghadapinya. Singapura,lanjut dia, telah terbiasa dengan kompetisi perdagangan yang terjadi terus menerus selama ini.

"Keberadaan Cina sebagai raksasa di dunia tidak bisa diabaikan. Karenanya, dia berpendapat lebih baik menderita saat ini ketimbang tidak menderita namun lantas mati. Kalau kita sibuk memproteksi diri tanpa memperbaiki daya saing, kita akan terus ketinggalan dari yang lain,'' jelasnya.

Hal senada diungkapkan oleh Iwan. Menurutnya, Singapura tidak menyampaikan sedikitpun kekhawatiran dalam menghadapi ACFTA. ''Malah kelihatannya mereka diuntungkan dengan ACFTA,'' tukas Iwan.
(Sandra Karina/Koran SI/css)
TWITTER »
twit