Foto: Koran SI
JAKARTA - Berdasarkan data dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin), impor mesin pertanian dari China pada 2007 mencapai USD5,3 juta, meningkat pada 2009 menjadi sebesar USD6 juta.
Adapun untuk impor mesin pertanian secara keseluruhan, diprediksikan akan mengalami peningkatan hingga 20 persen pada 2010. Sementara di 2008 impor mesin pertanian sebesar USD314 juta, meningkat di 2009 menjadi sekira USD376,8 juta.
”Peningkatan ini dipengaruhi oleh permintaan kebutuhan pertanian, sementara dalam negeri belum mampu memasuk pertumbuhan permintaan tersebut,” ujar Direktur Industri Mesin Kemenperin Chanty Triharso, di Jakarta, Senin (8/3/2010).
Chanty mengatakan, sebanyak 60 persen dari total impor mesin pertanian di 2009 berasal dari China, lalu disusul Thailand dan Malaysia. Namun, lanjut dia, permintaan mesin China ini akan mengalami penurunan di 2010 karena tidak adanya layanan purna jual. "Petani kita sudah mulai pandai, mereka sudah tidak mau mengunakan mesin China karena kalau rusak tidak bisa diperbaiki,” jelasnya.
Sementara itu, untuk menghadang mesin-mesin pertanian yang masuk ke Indonesia dengan kualitas rendah, Chanty mengatakan, tidak dapat mengunakan instrumen SNI Wajib. Pasalnya, lanjut dia, industri mesin pertanian banyak disuplai dari Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang belum siap menerapkan SNI Wajib. (Sandra Karina/Koran SI/ade)