Image : Corbis.com
JAKARTA - Pemerintah ternyata tetap akan menambah porsi Surat Berharga Negara (SBN) untuk menutupi defisit dalam RAPBN-P 2010 yang sebesar 2,1 persen atau Rp129,8 triliun. Rencananya pemerintah akan menambah porsi SBN hingga Rp1,849 triliun di tahun 2010 ini.
"Akan ada tambahan Rp1,8 triliun yang akan dilakukan penerbitan secara reguler," ujar Dirjen Pengelolaan Utang, Rahmat Waluyanto seusai Konferensi pers di Aula Mezzanine, Kantor Kementerian Keuangan, Jalan Dr Wahidin, Jakarta, Senin (8/3/2010).
Hal tersebut berarti pemerintah akan menaikkan target indikatif terkait penerimaan negara dari SBN menjadi sebesar Rp176,86 triliun dalam RAPBN-P 2010 dari sebelumnya sebesar Rp175,061 triliun.
Semakin melebarnya defisit dari 1,6 persen menjadi 2,1 persen maka menyebabkan peningkatan kebutuhan pembiayaan sebesar Rp31,806 triliun. Lalu terdapat pula penambahan biaya lain yang menyebabkan kebutuhan biaya pemerintah bertambah sebesar Rp50,4 triliun.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani juga menyampaikan bahwa terdapat peningkatan pengeluaran pembiayaan sebesar Rp18,683 triliun yang terdiri dari investasi pemerintah sebesar Rp2,683 triliun, penyertaan modal negara Rp3,8 triliun, dana bergulir Rp4,7 triliun, serta pinjaman untuk PLN sebesar Rp7,5 triliun.
Untuk menutupi tambahan pembiayaan tersebut, pemerintah akan menggunakan SILPA tahun 2009 yang sebesar Rp38,7 triliun, pembiayaan luar neegri sebesar Rp9,378 triliun, realokasi cadangan pembiayaan infrastruktur Rp914 miliar dan penambahan penerbitan SBN sebesar Rp1,849 triliun.
(rhs)