Ist
WASHINGTON - Sejumlah ekonom memperkirakan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga acuannya dalam enam bulan ke depan.
Survei yang dirilis National Association of Business Economists (NABE) di Washington kemarin menyebutkan, kenaikan suku bunga tersebut berkisar 0,25-0,5 persen dari level terendah saat ini 0-0,25 persen.Menurut polling terhadap 203 ekonom yang disurvei NABE, kenaikan tersebut seiring dengan keyakinan bank sentral bahwa level suku bunga saat ini masih cukup menstimulasi perekonomian AS. “Mayoritas memercayai bahwa kenaikan suku bunga acuan tepat jika dilakukan dalam beberapa bulan ke depan,” kata Presiden NABE Lyn Reaser.
Fed sebelumnya menyatakan masih tingginya angka pengangguran dan rendahnya inflasi akan mendorong otoritas keuangan Paman Sam itu memperpanjang suku bunga acuan di level terendah. Pada Jumat (5/3/2010) lalu Biro Statistik Tenaga Kerja mengumumkan bahwa jumlah pengangguran Februari di negara itu masih tetap di angka 9,7 persen secara nasional. Angka tersebut sama dengan bulan sebelumnya yang menandakan tidak adanya perekrutan tenaga kerja baru maupun pekerja yang dipecat oleh perusahaan. Secara terperinci, tingkat pengangguran berstatus lulusan universitas sebanyak 5 persen dan lulusan sekolah menengah mencapai 10,5 persen.
Dalam laporan terbarunya, NABE menyebutkan bahwa pemulihan ekonomi berjalan secara bertahap dan pembuat kebijakan juga meyakini bahwa The Fed akan mulai mempersiapkan diri untuk memperketat keuangan. Pooling NABE juga menyebutkan, seiring dengan berakhirnya pembelian surat berharga yang dijamin hipotek (mortgage backed securities) akan meningkatkan bunga pinjaman hipotek. Sekitar 42 persen dari ekonom yang disurvei memperkirakan kenaikan suku bunga mencapai 0,25-5 persen. Bulan lalu, The Fed telah mengakhiri program pembelian surat berharga yang nilainya mencapai USD1,25 triliun.
Program tersebut sebelumnya diluncurkan pemerintah untuk menyediakan dana ekstra guna mendukung ekonomi setelah diberlakukan suku bunga mendekati nol pada pengujung 2008 lalu. Dukungan dari pemerintah di saat krisis terburuk sejak tahun 1930-an juga dilakukan dengan menggelontorkan dana stimulus keuangan senilai USD878 miliar dolar pada Februari 2009 dengan target menggenjot penciptaan lapangan kerja. Namun, langkah tersebut mendapat kritikan tajam oposisi, yakni Partai Republik karena dianggap hanya membuat defisit AS anggaran semakin membengkak. “Sebanyak 80 persen dari ekonom juga menyatakan AS akan berhadapan dengan defisit anggaran jangka panjang,” kata NABE.
Sementara itu,Federal Deposit Insurance Corp (FDIC) kemarin melaporkan pihaknya mendorong agar pengelola dana pensiun publik mau mengalokasikan dana yang besarnya mencapai USD2 triliun. FDIC mengimbau agar pengelola pensiun menyuntikkan modal secara langsung ke dalam sistem keuangan dengan membeli perbankan yang gagal. Menurut FDIC, investasi langsung yang ditanamkan tersebut memungkinkan bisa mengurangi biaya dibanding pengelolaan dana oleh manajer ekuitas swasta.
FDIC menyatakan, hingga pekan lalu jumlah bank AS yang tutup bertambah menjadi 26 bank. Keempat bank gagal itu adalah Sun American Bank, Centennial Bank, Waterfield Bank dan Bank of Illinois. FDIC memperkirakan hingga akhir tahun ini jumlah bank di AS yang tutup karena krisis bisa mencapai 140 bank.
IMF: Afrika Bisa Lebih Cepat Pulih
Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) Dominique Strauss-Kahn menyatakan perekonomian Afrika diperkirakan lebih cepat pulih dari krisis dibanding ramalan lembaga yang dipimpinnya. Hal ini didasarkan pada ketatnya kebijakan fiskal di hampir semua negara di Afrika, terutama di Afrika Selatan dan Nigeria sehingga pada semester II/2009 sudah mulai pulih dari krisis.
“Kami berharap pasar Asia bisa tumbuh lebih cepat dibanding Afrika, tetapi kami cukup mendapat kejutan Afrika mampu tumbuh lebih cepat dibanding ramalan kami,” kata Strauss-Kahn di Nairobi, Minggu (7/3). Direktur IMF untuk Wilayah Afrika Antoinette Sayeh menambahkan, perekonomian kawasan Afrika diperkirakan tumbuh 2 persen, lebih baik dibanding proyeksi IMF yang hanya 1 persen. “Kami berharap, pertumbuhan kami tidak akan lebih buruk dibanding perkiraan sebelumnya,” tambahnya.
Dia menambahkan,pada periode 2009 Afrika memang menghadapi masa-masa cukup berat karena perekonomiannya tumbuh kurang dari 2 persen.Padahal, pada satu dekade terakhir Afrika rata-rata tumbuh 5-7 persen. (Rtr/AFP/Yanto Kusdiantono)
(//css)