Foto: Corbis
JAKARTA - PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) menargetkan kenaikan laba pada tahun ini sebesar 51 persen menjadi Rp740 miliar. Per Desember 2009, laba BTN sebesar Rp490 miliar atau naik 14 persen dari tahun sebelumnya.
"Optimisme tersebut didasarkan pada tingginya dana segar (fresh fund) dari hasil initial public offering (IPO) tahun lalu sebesar Rp1,88 triliun. Selain itu, selama dua bulan di 2010 ini laba BTN sudah on track lebih baik," tegas Direktur Keuangan BTN Saut Pardede dalam "Pemaparan Kinerja BTN 2009" di Menara BTN Jakarta, Senin (8/3/2010) malam.
Selama 2009 lalu, ekuitas perseroan naik 77,41 persen dari Rp3,1 triliun menjadi Rp5,4 triliun. Sementara aset naik 30,06 persen dari Rp44,99 triliun menjadi Rp58,51 triliun.
Dengan kenaikan ekuitas itu, juga berdampak pada rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR). Hingga akhir 2009, CAR perseroan naik 37,53 persen dari 15,08 persen menjadi 20,74 persen.
"Sebenarnya laba perseroan di akhir 2009 lalu naik 24 persen menjadi Rp535 miliar. Namun karena ada biaya provisi dan biaya lain-lain maka laba kami tekan menjadi hanya naik 14 persen. Sehingga kami tetap menargetkan pertumbuhan laba sebesar 51 persen," katanya.
Untuk menggenjot laba tersebut, lanjut Saut, perseroan akan menganggarkan biaya modal (capital expenditure) di tahun ini sebesar Rp343 miliar. Nilai itu naik 21,2 persen dari capex tahun lalu sebesar Rp283 miliar.
Dana tersebut akan dialokasikan pembukaan kantor layanan setingkat kantor kas di kantor pos secara online sebanyak 500 kantor per tahun. Per Februari ini jumlahnya sudah 60 kantor.
Selain itu, alokasi capex juga akan dianggarkan untuk pembenahan infrastruktur teknologi informasi (IT). Pihaknya akan membuat e-loan (proses kredit cepat terkomputerisasi) dan e-collection (permudah layanan pembayaran debitur).
"Biaya dana (cost of fund) kami masih tinggi. Sehingga kami akan memangkas melalui proses birokrasi kredit cepat (e-loan dan e-channel) dan memberikan bunga kredit bersaing. Selain itu, kami akan menggenjot dana murah sehingga potensi pendapatan nonbunga (fee based income) perseroan kian membesar," katanya.
Direktur Utama BTN Iqbal Latanro menjelaskan pendapatan perseroan pada 2009 tercatat naik 25,6 persen dari Rp4,56 triliun menjadi Rp5,73 triliun. Pendapatan tersebut ditopang dari bunga kredit KPR dan bunga kredit modal kerja.
"Pendapatan perseroan tahun lalu ditopang oleh 90 persen dari pendapatan bunga kredit dan nisbah bagi hasil kredit modal kerja (KMK) secara syariah," katanya.
Selama ini kredit pemilikan rumah (KPR) perseroan mengontribusikan ke pendapatan sebesar 93,99 persen. Sisanya dari non housing seperti pemberian KMK Syariah dan kredit usaha rakyat (KUR).
Di sisi lain, lanjut Iqbal, perseroan juga mampu melakukan efisiensi. Yaitu investasi IT di tahun lalu bisa menyebabkan efisiensi biaya operasional (overhead cost) di tahun ini. Apalagi dengan pelayanan kredit secara online.
"Selain pemberian kredit, perseroan juga menggenjot dana murah melalui tabungan Batara. Caranya melakukan sinergi channeling dengan PT Pos Indonesia," katanya.
Ke depan, perseroan akan tetap menggejot kredit KPR tersebut. Pasalnya kredit properti secara nasional hanya mencapai Rp130 triliun pada akhir tahun kemarin.
Dengan ceruk potensial tersebut, perseroan menginginkan pangsa pasar kredit KPR bersubsidi sebesar 98 persen dan KPR non subsidi sebesar 25,7 persen.
"Tapi ke depan, perseroan juga akan memperbesar pertumbuhan laba dengan menggenjot diversifikasi kredit ke KMK syariah, KUR dan kredit tanpa agunan," tambah Saut.
Diversifikasi kredit tersebut tentu saja akan menguntungkan perseroan. Pasalnya, kredit bertenor rendah, jenis kredit UMKM namun memiliki marjin keuntungan yang lebih tinggi. Meski, resiko yang harus ditanggung perseroan juga tinggi.
Untuk mencegah gagal bayar (default), perseroan sudah menyiapkan provisi sebesar Rp44 miliar dan akan menggenjot marjin bunga bersih (net interest marjin/NIM). Per 2009, NIM perseroan justru turun dari 5,08 persen menjadi 4,65 persen.
"Tapi tahun ini kami menargetkan kenaikan NIM menjadi 5,38 persen. Itu dampak ke laba semakin besar. Apalagi kami tidak mengenal penghapusan (write off) kredit KPR. Kami cuma write off KUR," pungkasnya.
Rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) perseroan per 2009 naik dari 3,2 persen menjadi 3,36 persen (gross) dan 2,52 persen menjadi 2,85 persen (net). NPL membengkak karena kredit properti tidak bisa keluar masuk seenaknya seperti di kredit konsumer lainnya.
(Didik Purwanto/Koran SI/css)