Ilustrasi. Foto: Corbis
JAKARTA - Pemerintah saat ini sedang giat untuk meningkatkan kerja sama di bidang energi dan sumber daya mineral antara Indonesia dengan negara bagian Queensland, Australia. Hal tersebut karena selama ini Queensland merupakan partner pertambangan yang memiliki banyak kesamaan dengan Indonesia.
“Pemerintah Queensland kini tengah giat mengupayakan Coal Bed Methane (CBM) sebagai sumber energi. Hingga saat ini 60 persen kebutuhan energi di wilayah tersebut telah dipasok dari CBM,” kata Staf Khusus Menteri ESDM bidang Percepatan Energi dan Produksi Migas, Denie Tampubolon, seperti dilansir dari situs resmi Kementerian ESDM, di Jakarta, Selasa (9/3/2010).
Selain merupakan salah satu wilayah pertambangan terbesar di Australia, banyak perusahaan asal Queensland telah berinvestasi di sektor pertambangan Indonesia, seperti Leighton dan Thiess.
Oleh karena itu, kerja sama Indonesia-Quensland harus ditingkatkan ke depannya, terutama dalam mengembangkan energi baru terbarukan yang belum tergarap optimal di Indonesia.
Potensi CBM di Indonesia jauh lebih besar dari potensi di Queensland, namun Queensland telah mulai lebih dulu mengelolanya dibanding Indonesia yang baru mengembangkan beberapa tahun terakhir ini.
“Kita bisa belajar dari Queensland, dengan harapan suatu saat nanti produksi CBM kita bisa melebihi mereka,” ujar Denie.
Mengenai adanya kegamangan investor usai dikeluarkannya UU Minerba yang mengatur tentang Domestic Market Obligation (DMO), pada pertemuan dengan pemerintah Queensland disampaikan bahwa kebijakan DMO diimbangi dengan kebijakan Coal Pricing, sehingga investor tidak perlu takut harga di pasar domestik akan jatuh.
“Para investor tidak perlu khawatir sebab harga batu bara di pasar dalam negeri nanti akan disesuaikan dengan harga di pasar dunia,” ujar Denie. (ade)