Foto: Corbis
JAKARTA - Laba bersih PT Semen Gresik Tbk (SMGR) pada 2009 naik 26,9 persen menjadi Rp3,2 triliun dibandingkan tahun sebelumnya Rp2,52 triliun. Kenaikan ini disebabkan suksesknya program efisiensi operasional.
“Adanya efisiensi perseroan menjadikan laba bersih kita tumbuh menjadi Rp3,2 triliun,” kata Direktur Utama Semen Gresik Dwi Soetjipto di Jakarta kemarin. Menurut dia,volume penjualan tahun lalu meningkat 15 persen mencapai 18,2 juta dengan nilai penjualan Rp14 triliun. Sementara untuk tahun ini, Dwi optimistis laba bersih perseroan bisa tumbuh minimal 10 persen,sedangkan volume penjualan diproyeksi meningkat 19 persen. ”Net profit (laba bersih) kemungkinan pertumbuhannya melambat, namun akan di atas 10 persen,” ucapnya. Analisis Asia Financing Network, David Manurung mengatakan, potensi saham SMGR kedepan masih sangat baik terkait pulihnya harga properti serta masih rendahnya suku bunga.
“Masih cukup bagus dari segi makroekonomi. Inflasi masih terjaga dan properti juga meningkat karena suku bunga masih rendah. Alhasil permintaan atas semen juga akan meningkat,” jelas David. Menurut dia,saham SMGR masih patut dikoleksi untuk jangka panjang maupun pendek. Apalagi, ada rencana pembagian dividen senilai Rp1,32-1,65 triliun atau Rp 222-278 per saham untuk tahun buku 2009.
Selain itu, ekpansi bisnis SMGR juga masih agresif.Perseroan sedang mengerjakan pembangunan dua pabrik baru di Tuban, Jawa Timur dan Tonasa, Sulawesi Selatan.Operasional pabrik ini memang masih cukup lama. Namun, jika sudah beroperasi, kapasitas produksi sudah pasti meningkat tajam. Sementara itu perusahaan menggodok proyek debottlenecking untuk menangkap potensi peningkatan permintaan pasar.
Timah Ajukan Penurunan Dividen
Sementara itu, PT Timah Tbk (TINS) berniat mengajukan permohonan penurunan setoran dividen ke pemerintah dari 50 persen menjadi 30 persen dari laba bersih. Selain karena penurunan laba, perseroan juga membutuhkan dana untuk investasi. “Penurunan deviden ini supaya Timah memiliki dana yang cukup untuk investasi,” sebut Direktur Utama Timah Wachid Usman,di Jakarta kemarin.
Wachid mengaku, perseroan membutuhkan banyak dana investasi tahun ini untuk menyelesaikan beberapa proyek, di antaranya menambah jumlah kapal keruk serta memperbaiki kapal yang sudah tua. Dalam empat tahun ke depan, Timah akan menambah kapal keruk sebanyak dua unit per tahun. “Rata-rata harga satu kapal keruk sekitar USD35-40 juta,” pungkasnya. Dia melanjutkan,perseroan juga akan memperbesar kapasitas pabrik tin solder dengan dana USD25 juta. Saat ini kapsitas pabrik yang dimiliki perseroan hanya mampu memproduksi 2.000 ton per tahun.
Sementara itu, terkait penurunan laba,Wachid menjelaskan, hal iti disebabkan harga timah yang melemah. Sepanjang tahun lalu, harga timah turun sekitar 35 persen.Untuk tahun ini,harga timah diharapkan stabil di kisaran USD18.400 per ton, atau naik dari tahun lalu USD 13.000 per ton. Pada tahun lalu,Timah membagikan dividen senilai Rp700 miliar, atau 52 persen dari laba bersih 2007 yang sebesar Rp1,34 triliun. (Johana Purba)
(//css)