Getting time...

Kenaikan Ekspor China Berlanjut

Kamis, 11 Maret 2010 06:49 wib
Foto: Corbis
Foto: Corbis
BEIJING - Pemerintah China menyatakan ekspor menguat selama tiga bulan berturut-turut di Februari pada level tercepat selama tiga tahun. Analis menilai ini peluang penguatan yuan.

Pemerintah China mengatakan bahwa ekspor China bulan Februari 2010 tumbuh 45,7 persen dibandingkan periode yang sama 2009 (year on year/yoy) menjadi USD94,5 miliar. Data Februari memastikan bahwa penurunan yang berakhir di Desember benarbenar terjadi. Analis berpendapat, data Februari merefleksikan penguatan permintaan barang produk China. Dibandingkan Februari 2009, ekspor turun 25,7 persen yoy akibat krisis global. “Ini merupakan dampak dari suku bunga rendah,tapi fakta bahwa hari kerja bulan Februari ini lebih rendah lima hari (akibat liburan Imlek) dibandingkan tahun 2009 membuat data ekspor terbaru sangat bagus,” kata Senior Strategist of Royal Bank of Canada Brian Jackson. Liburan Tahun Baru Imlek tahun ini terjadi pada akhir Februari, sementara tahun lalu pada akhir Januari.

Analis mengatakan,penguatan data ekspor bisa membuat Beijing lebih leluasa untuk membiarkan yuan terapresiasi. Nilai tukar yuan terhadap dolar dipatok sejak pertengahan 2008.Kebijakan China ini mendapat kritik tajam dari mitra dagang dari negara-negara Barat.Mereka menuduh kebijakan China itu sebagai upaya mendongkrak ekspor. Pekan lalu Gubernur Bank Sentral China (PBOC) Zhou Xiaochuan menyatakan bahwa kebijakan pematokan yuan bersifat sementara. Kebijakan ini segera dicabut jika pemulihan global sudah dapat dipastikan terjadi.

“Pemulihan semakin nyata,dan ini meningkatkan keyakinan Pemerintah China untuk memulai revaluasi yuan,”ulas ekonom IHS Global Insight Beijing Ren Xianfang. Surplus neraca perdagangan China Februari tercatat USD7,61 miliar atau naik 57,2 persen yoy. Impor naik 44,7 persen yoy menjadi 86,9 miliar. Namun, China belum yakin akan terjadi peningkatan yang cukup tajam tahun ini. Menteri Perdagangan China Chen Deming menjelaskan kinerja perdagangan baru akan kembali pada level sebelum krisis pada tiga tahun mendatang.

Tapi kuatnya data perdagangan pada Februari membuat ekonom Deutsche Bank Ma Jun berpendapat lain. Dia menilai pernyataan Chen terlalu pesimistis. ”Kami memprediksi kinerja ekspor akan jauh di atas ekspektasi,” ungkap Ma. Data-data perdagangan menunjukkan terjadi titik balik pada Desember, pada saat ekspor tumbuh 17,7 persen. Januari 2010, ekspor tumbuh 21 persen yoy.

Penjualan Mobil Melonjak 55%


Asosiasi Industri Automotif China mengatakan penjualan mobil China bulan Februari naik 55 persen yoy.Insentif pembelian mobil baru oleh Pemerintah China merupakan pemicu lonjakan penjualan. Pada Februari, penjualan mobil penumpang tercatat 942.900 unit, sementara Januari 1,32 juta unit.

”Penjualan Februari sangat solid. Sangat tidak realistik kalau mengharapkan tiap bulan terjadi pertumbuhan 100 persen,”papar analis IHS Global Insight John Zeng. SAIC Motors mengumumkan penjualan naik 46 persen menjadi 248.000 unit. Penjualan ini termasuk untuk kategori truk dan bus. General Motors Corp yang beraliansi dengan SAIC dan FAW Group berhasil menjual 174.306 unit kendaraan di China atau naik 51 persen yoy. Ford Motor Co yang beraliansi dengan Chongqing Changan Automobile Co dan Mazda Motor menjual 18.193 unit kendaraan atau naik 37,5 yoy. Sementara, Toyota Motor Corp naik 30 persen menjadi 45.500 unit.

Analis memprediksi penjualan mobil di China akan tumbuh 10 persen tahun ini.Namun,beberapa pelaku industri di China masih pesimistis terjadi lonjakan penjualan mobil. Presiden SAIC Chen Hong menilai mobil kecil sudah bukan menjadi barang mewah di China. (AFP/Rtr/Ahmad Senoadi)
(//css)
TWITTER »
twit