Foto: Corbis
TOKYO - Tingkat pemesanan mesin utama Jepang pada Januari lalu di luar perkiraan melemah 3,7 persen dibanding bulan sebelumnya. Kendati demikian data tersebut lebih baik dibanding ramalan analis yang memperkirakan penurunan 4,1 persen.
Data terbaru itu menunjukkan masih belum stabilnya perekonomian Jepang karena selama tiga bulan terakhir hanya Desember 2009 yang tingkat pesanan permesinannya naik 20,1 persen.Pada November 2009 order permesinan yang menjadi indikator belanja modal swasta Negeri Sakura turun 11,3 persen.
Menurut Kantor Kabinet Jepang kemarin, berdasarkan sektoral pesanan mesin dari perusahaan manufaktur memang naik 3,3 persen secara bulanan, namun untuk sektor nonmanufaktur terjadi penurunan cukup tajam, 12,9 persen.
Di luar mesin dan kelistrikan order mesin Jepang juga turun 1,1 persen dibanding tahun sebelumnya. “Data pemesanan mesin mengonfirmasikan bahwa belanja manufaktur cukup kuat, meski nonmanufaktur anjlok,” kata kepala ekonom RBS Securities Jepang Junko Nishioka kemarin.
Dia menambahkan, data pada sektor nonmanufaktur bulan lalu diharapkan bisa memberikan sinyal positif di masa mendatang. Kondisi tersebut diperkirakan mendorong Bank Sentral Jepang (Bank of Japan/BOJ) mengeluarkan kebijakan mitigasi lebih ketat untuk mencegah terjadinya deflasi berkepanjangan.
BOJ diperkirakan menawarkan surat berharga guna memenuhi pendanaan jangka pendek mulai bulan ini atau bulan depan. Pemerintah sendiri hari ini dijadwalkan menyampaikan revisi angka produk domestik bruto (PDB) kuartal IV/2009 menjadi 1 persen,turun dari proyeksi Reuters sebesar 1,1 persen seiring dengan lambatnya belanja modal. Di bagian lain, BOJ kemarin mengumumkan harga perkulakan pada Februari lalu secara tahunan kembali turun 1,5 persen. Kendati demikian, indeks harga-harga tersebut membaik 0,1 persen baik dibanding bulan sebelumnya.
Penurunan harga produsen itu dipicu melonjaknya harga komoditas seperti minyak mentah, baja, tembaga, dan gandum sebesar 62,7 persen dibanding tahun sebelumnya, Sementara itu, Menteri Keuangan Japang Naoto Kan menyatakan tidak melihat diperlukannya langkah tambahan dari BOJ dalam memerangi deflasi.Hanya, dia menegaskan bahwa yang diperlukan ke depan adalah adanya pembagian peran guna mengatasi masalah moneter. Bersama bank sentral, Kan menghendaki adanya perbaikan masalah harga barang dengan target inflasi 0-2 persen.
Anggota Dewan Kebijakan BOJ Miyako Suda menyatakan bahwa bank sentral akan menjadi dan mengakomodasi kebijakan moneter untuk menolong negeri itu bangkit dari deflasi. ”Kami ber-maksud melanjutkan kontribusi untuk menolong ekonomi Jepang kembali tumbuh disertai kestabil-an harga,” kata Suda saat berbicara di sebuah forum diskusi di Tokyo kemarin. Kendati demikian, kebijakan moneter yang longgar hanya akan berdampak sedikit pada kenaikan harga jika tingkat suku bunga masih mendekati nol.
Pada kesempatan tersebut Suda mendorong pemerintah dan kalangan swasta menjalankan reformasi struktural, termasuk mengendalikan utang guna menjaga tumbuhnya perekonomian yang masih berada di bawah tekanan stabilitas harga. (AFP/Rtr/Yanto Kusdiantono)
(//css)