Foto: Corbis
WASHINGTON - Amerika menuding China memanipulasi yuan dan meminta segera merevaluasi mata uangnya. Namun, Negeri Tirai Bambu itu gigih menolaknya. Hal tersebut diungkapkan Presiden Barack Obama dalam pidato kenegaraannya, Kamis kemarin.
Seruan tersebut akibat tekanan mata uang dolar AS pada yuan mulai tak terbendung, seiring pergolakan dalam hubungan antara Washington dengan Beijing.
Seperti dikutip dari AFP, Jumat (12/3/2010), Obama mengatakan pihaknya berupaya berada di jalur strategis atas tekanan politik keras yang terjadi terhadap mata uangnya. Dalam pidato utama pada hari Kamis lalu, Obama juga mengatakan, dalam dunia perdagangan diperlukan sinergisasi mata uang kedua belah pihak, sebagai penyeimbang antara ekspor dan impor mendorong pertumbuhan setelah krisis keuangan.
"Negara-negara dengan defisit eksternal memiliki simpanan dan tentunya mengekspor lebih banyak lagi. Negara-negara dengan surplus eksternal perlu untuk meningkatkan konsumsi dan permintaan domestiknya," kata Obama dalam pidatonya, kepada Export-Import Bank di Washington.
"Dan seperti yang telah saya katakan sebelumnya, China pindah ke yang lebih berorientasi pasar nilai tukar akan membuat kontribusi penting bahwa upaya rebalancing global," tambahnya.
Komentar Obama menggambarkan, jika terdapat perselisihan antara Beijing dan Washington mengenai mata uang negara masing-masing. Spekulasi terjadi saat Departemen Keuangan AS akan segera mensyahkan mata uang China sebagai "manipulator" dalam laporan tahunan.
Komentar itu keluar setelah Presiden AS Barack Obama, dalam pernyataannya di hadapan senator Partai Demokrat, meminta China menghentikan manipulasi mata uang. Pasalnya, aksi China ini dapat mendorong harga produk AS membengkak, sementara produk China mengalami deflasi. "Apalagi hal itu dilakukan secara rekayasa," kata Obama.
Sejumlah ekonom setuju dengan pernyataan Obama, bahkan ada yang menilai, yuan saat ini berada di bawah nilai sebenarnya (undervalued) hingga 25-40 persen, dibandingkan dolar atau mata uang lainnya.
(css)