Foto: Koran SI
JAKARTA - Pemerintah Indonesia sedang menjajaki kerja sama dengan pemerintah Iran untuk membangun pabrik pupuk di Iran.
“Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan Sekretaris Kabinet (Setkab) sudah ke sana. Nanti kita akan berbicara ke Pupuk Sriwijaya. Jadi belum bisa terlaksana 2010 atau kapan, masih dalam penjajakan,” ujar Menteri BUMN Mustafa Abubakar, usai Salat Jumat di kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat (12/3/2010).
Menurut Mustafa, ide pembuatan pabrik di Iran ini sudah sejak lama, tapi kini sudah ada beberapa opsi. “50 persen produksi untuk Indonesia dan 50 persen untuk Iran,” ungkap Mustafa.
Dari 50 persen yang ada, lanjut Mustafa, ada kemungkinan ditawar dan Indonesia hanya membayar 20 persen. Sementara 80 persen dari 50 persen itu masih didukung dana dari pemerintah Iran. “Nanti Indonesia tinggal mencicil tanpa bunga,” ujar Mustafa.
Namun Mustafa menyebutkan hasil produksi pupuk di Iran tersebut, tidak semuanya akan dikirim ke Indonesia. Sebagian akan dikirim ke negara-negara sahabat di dekat Iran.
“Nanti kalau dibawa ke Indonesia, belum tentu visible. Tapi kalau kita menjual gas yang di Iran itu ke negara-negara yang membutuhkan pupuk dekat dengan Iran, itu akan menjadi bagian dari bisnis untuk profit center,” tutur Mustafa.
Dirinya pun enggan menyebutkan besaran nilai investasi yang akan dikeluarkan. “Investasi belum tau nilainya berapa, tapi kalau membangun dari awal memang akan ada country risk,” ujarnya. (ade)