Foto : Reuters
BEIJING - Pemerintah China tidak akan mengubah kebijakannya terhadap nilai tukar mata uang Yuan, meskipun saat ini Cina tengah menghadapi tahun sulit dalam menjaga pertumbuhan ekonomi dan pembangunan.
Dalam konferensi pers laporan tahunan Cina,Perdana Menteri (PM) China Wen Jiabao menyatakan Beijing tidak siap untuk menarik stimulus yang diberlakukan pada akhir 2008 untuk mengeluarkan Cina dari krisis
"Ini akan menjadi tahun yang paling rumit bagi perekonomian Cina dan kami akan terus mempertahankan kelangsungan dan stabilitas kebijakan ekonomi makro negeri ini," ujarnya sebagaimana dikutip dari AFP, Minggu (14/3/2010)
Selain itu, Dirinya juga memperingatkan agar Beijing tidak menyerah kepada tekanan asing untuk meningkatkan nilai mata uangnya dan tidak mengizinkan Amerika Serikat ikut campur terlalu jauh pada masalah-masalah pelik di Taiwan dan Tibet.
Perlu diketahui, Pemerintah China mengucurkan USD586 miliar paket stimulus pada akhir 2008 untuk meningkatkan permintaan domestik sebagai langkah menutupi jatuhnya ekspor saat resesi AS dan Eropa.
Wen mengatakan, saat ini Pemerintah tetap fokus untuk mengkonsolidasikan pemulihan China.
"Situasi ekonomi masih tetap rumit, bahkan sekalipun ekonomi dunia membaik, masalah utama ekonomi global belum sepenuhnya hilang," tuturnya.
Pekan lalu Presiden AS Barack Obama menyerukan China agar lebih berorientasi pada pasar melalui kebijakan nilai tukar, yang menurutnya akan membuat sebuah kontribusi penting dalam menjaga keseimbangan ekonomi dunia pascakrisis.
Namun Wen menolak imbauan tersebut dan mengatakan nilai mata uang tidak bisa disalahkan untuk defisit perdagangan luar negeri.
"Kami menentang praktek saling tuding antarnegara atau bahkan memaksa negara lain untuk mengatur nilai mata uang mereka," tandasnya.(adn)
(rhs)