Getting time...

China Tampik Tuduhan AS Terkait Manipulasi Yuan

Candra Setya Santoso - Okezone
Selasa, 16 Maret 2010 18:17 wib
Foto: Corbis
Foto: Corbis
BEIJING - Pemerintah China menegaskan, jika pihaknya tidak melakukan manipulasi atas mata uangnya, Yuan, seperti yang dituduhkan pemerintah Amerika Serikat (AS) beberapa waktu lalu.

Dijelaskannya, nilai tukar yang selama ini diperdebatkan bukanlah penyebab terjadinya surplus perdagangan yang besar di China dan bersumpah akan tetap mempertahankan nilai tukar stabil untuk mendukung ekspor.

Seperti dikutip dari Reuters, Selasa (17/3/2010), Beijing dan Washington tampaknya mengalami deadlock dalam sebuah dialog tertutup. Departemen Keuangan AS akan melaporkan pada 15 April sekaligus menentukan China telah memanipulasi nilai tukarnya untuk keuntungan perdagangan.

"Kalau masalah kurs dipolitisasi, maka ini tidak akan membantu dalam menghadapi krisis keuangan global dalam koordinasinya dengan pihak-pihak terkait," kata juru bicara Kementerian Perdagangan China Yao Jian dalam sebuah konferensi pers regulernya, hari ini.

Yao menolak berargumen bahwa surplus perdagangan China yang besar terhadap Amerika Serikat disebabkan yuan, yang dikenal sebagai renminbi, di mana ekonom AS melihat terjadi manipulasi angka menjadi 25 persen atau lebih undervalued.

"Surplus perdagangan bukan karena nilai tukar renminbi. Surplus perdagangan adalah fenomena globalisasi. Ini akan terjadi dalam beberapa waktu," katanya.

Komentar Yao ini diperkuat Perdana Menteri China Wen Jiabao dan para pejabat China lainnya, yang menekankan bahwa apa pun yang terjadi dalam nilai tukar, Beijing menyatakan tidak ingin ditekan pihak asing. Dengan adanya keputusan Departemen Keuangan Amerika Serikat, China akan menghadapi ujian berat dalam memutuskan kapan untuk menggerakkan mata uangnya.

Yao berbicara sehari setelah 130 anggota parlemen meminta agar Presiden AS Barack Obama mendapat tekanan dari China atas praktik mata uangnya, yang mereka katakan memotong daya saing perusahaan-perusahaan AS.

"Dampak dari manipulasi mata uang China dalam perekonomian AS tidak dapat dilebih-lebihkan. Itu untuk menjaga mendevaluasi mata uang kurs untuk memberikan subsidi kepada perusahaan-perusahaan China dan secara tidak adil merugikan pesaing asing," kata legislator dalam sebuah surat mereka.

Sebelumnya, Perdana Menteri Wen pada Minggu membantah tudingan AS bahwa China telah memanipulasi nilai kursnya. "Penyesuaian dalam nilai tukar renminbi akan ditentukan berdasarkan kondisi ekonomi nasional, dan bukan karena tekanan pasar eksternal," ujar Sun Lijian, seorang ekonom Fudan University di Shanghai, China kepada Economic Times.

Yao juga mempertanyakan, apakah China, yang memiliki defisit perdagangan dengan Jepang, Korea Selatan dan beberapa negara berkembang harus mengekor Amerika Serikat dan mengeluarkan undang-undang untuk menangani negara-negara ini.
(css)
TWITTER »
twit