Getting time...

Substitusi dengan PLTP Skala Kecil Hemat Rp1 T

Candra Setya Santoso - Okezone
Selasa, 16 Maret 2010 10:37 wib
Foto: Koran SI
Foto: Koran SI
JAKARTA - Kementerian Ristek bersama-sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mencatatkan lebih dari 200 megawatt (mw) Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) di Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NIT), Maluku dan Maluku Utara, yang dapat disubstitusi dengan Pusat Listrik Tenaga Panas (PLTP) skala kecil. Potensinya dapat penghematan bahan bakar minyak (BBM) sebesar sekira 200 ribu kilo liter (kl) per tahun atau setara dengan Rp1 triliun lebih per tahun.

Seperti dikutip dari situs Kementerian ESDM, di Jakarta, Selasa (16/3/2010), berdasarkan hasil studi oleh Kementerian Ristek bersama-sama dengan BPPT, maka subsidi listrik oleh Pemerintah pada 2009 mencapai Rp51,9 triliun.

Kementerian ESDM telah menetapkan di dalam road-map (action plan) bahwa target pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) sampai dengan 2025 adalah sebesar 9 ribu mw, dengan tahapan 2 ribu mwe (2008), 3.442 mwe (2012), 4.600 mwe (2016), dan 9 ribu mwe (2025). Namun, sampai saat ini baru 1.189 mw (4,3 persen) yang telah dimanfaatkan untuk membangkitkan listrik, maka tanpa adanya percepatan pengembangan, target diatas akan sangat sulit untuk dicapai.

Untuk mencapai besaran target pemanfaatan panas bumi tersebut, pemerintah  membagi dalam dua skala pemanfaatan, pertama pengembangan potensi skala yang besar (enthalpy tinggi) melalui PLTP skala besar dan kedua  pemanfaatan potensi panas bumi skala kecil (enthalpy rendah-menengah) dengan model pembangkit seperti yang sedang dikerjakan Tim Panas Bumi BPPT.

Teknologi siap pakai dan proven untuk PLTP skala kecil saat ini belum tersedia karena itu inovasi teknologi yang dikembangkan BPPT dapat menjadi solusi pemanfaatan potensi panas bumi skala kecil khususnya sebagai energi pembangkit listrik sekaligus sangat berpotensi sebagai pembangkit pioneer atau pembangkit utilitas pada pengembangan lapangan panas bumi ataupun selama masa konstruksi.

Proyek PLTP binary cycle telah dimulai sejak akhir 90-an bekerjasama dengan Prancis di Lahendong, Sulawesi Utara, namun  pada saat itu seluruh peralatan dan teknologinya masih impor, berbeda dengan saat ini yang seluruhnya komponennya merupakan produk dalam negeri. “Binary cycle saat ini masalah dalam skala pilot project dengan kapasitas kecil, rencana kedepannya BPPT akan meningkatkan  besaran kapasitas pembangkit hingga mencapai 1 mw secara bertahap,” ujar Direktur Pusat Teknologi Konversi dan Konservasi BPPT Arya Rezavidi. (css)
TWITTER »
twit