Foto: Corbis
YOGYAKARTA - Tren ekspor DIY cenderung membaik dari tahun ke tahun. Meski perdagangan dengan China masih defisit, produk DIY dianggap mampu bersaing dengan produk dari Negeri Panda seiring diberlakukan ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA).
Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian,Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) DIY Riyadi Ida Bagus mengakui neraca perdagangan DIY dengan China memang masih defisit. Pada 2009 lalu ekspor produk dari DIY ke China sebesar USD1,31 juta,sedangkan produk China yang masuk DIY sebesar USD6,54 Juta.
"Namun, produk China yang masuk DIY sebagian besar berupa barang-barang modal seperti bahan baku dan peralatan, sedangkan produk dalam bentuk konsumsi masih sangat kecil yang masuk DIY," paparnya kemarin. Dia menambahkan,barang modal dari China yang masuk DIY antara lain kapas, benang, tekstil, mesin tekstil, bahan baku kulit, dan kertas.
Sebaliknya, produk DIY yang masuk China sebagian besar adalah barang konsumsi (barang jadi) seperti mebel kayu, minyak asiri, minyak cengkeh, teh hijau, teh hitam,kulit disamak, kerajinan kertas, minyak kenanga, dan lainnya.
"Artinya, secara produk DIY diuntungkan," ujar Riyadi Ida. Masuknya barang-barang modal dari China ke DIY tersebut menjadi peluang besar bagi produsen DIY. "Dampak positifnya adalah produsen DIY mendapatkan bahan baku yang murah, peralatan yang lebih murah karena biaya masuk kecil. Sehingga produsen DIY bisa menekan biaya produksi. Ini yang diharapkan bisa menggenjot aktivitas UMKM di DIY dalam berproduksi," paparnya.
Berdasarkan data, persentase pertumbuhan ekspor DIY selalu positif terhadap neraca perdagangan, misalnya dalam ASEAN-India, ASEAN-Korea Selatan, ASEANJepang, dan lainnya. "Misalnya, ekspor DIY ke Korea Selatan pada 2007 hanya 2 persen,2008 menjadi 3,4 persen, dan 2009 menjadi 6,73 persen. Dengan Jepang,eksporDIYpada 2008 hanya 4,8 persen, pada 2009 menjadi 5,4 persen,dan 2009 menjadi 6,46 persen," ungkapnya.
Memang ada beberapa produk DIY yang dianggap “lemah”ketika berhadapan dengan produk China, yakni produk tekstil.Menurut dia, sebelum diberlakukan ACFTA, tekstil DIY sudah kalah bersaing dengan China. "Produk China sudah masuk DIY dengan harga lebih murah, namun ke depannya masih bisa digeser.
Saya tidak mengatakan murah itu tidak berkualitas, namun konsumen sudah membuktikan tekstil China kurang nyaman dikenakan," paparnya. Pendapat berbeda disampaikan Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) DIY Jadin Djamaludin. Dia mengatakan, ACFTA perlu ditunda karena kondisi industri, khususnya tekstil dan produk tekstil (TPT) di Indonesia belum mendukung.
"Selain ditunda, pemerintah perlu menyiapkan konsep yang lebih matang, serta memperbaiki regulasi perindustrian dan perdagangannya. Perbankan juga perlu menurunkan suku bunganya yang saat masih berkisar 14-15 persen. Di China, suku bunga hanya 5 persen," ujarnya.
Menurut dia,kebutuhan tekstil di Indonesia, sebanyak 78 persen dari impor dan hanya 22 persen dari produsen Indonesia.Dari total impor itu, sebanyak 30 persen dari China yang masuk Indonesia melalui Singapura, Malaysia,dan lainnya. "Ancaman China akan menghentikan impor kalau ACFTA ditunda, tidak perlu dikhawatirkan. Untuk tekstil, produk dalam negeri sangat mampu memenuhi kebutuhan pasar Indonesia yang berpenduduk 120 juta jiwa, dengan catatan kita diberi kesempatan," ungkapnya. (Ridwan Anshori) (//css)