Getting time...

Bank Dunia Desak Apresiasi Yuan

Rabu, 17 Maret 2010 18:30 wib
Mata Uang Yuan. Foto: Corbis
Mata Uang Yuan. Foto: Corbis
BEIJING - Bank Dunia mendesak Pemerintah China untuk mengapresiasi nilai tukar yuan agar Negeri Tirai Bambu itu bisa memerangi inflasi dan pemanasan ekonomi. Bank Dunia juga memprediksi China akan mengalami pertumbuhan di atas 9,5 persen tahun ini.

"Penguatan nilai tukar bisa membantu mengurangi tekanan inflasi dan menyeimbangkan ekonomi," kata Bank Dunia dalam laporan terakhir kemarin, seperti dilansir dari AFP, Rabu (17/3/2010).

Saat ini, China menghadapi tekanan internasional, terutama dari Amerika Serikat (AS), agar membiarkan yuan menguat. Beijing telah mematok nilai tukar yuan terhadap dolar sejak pertengahan 2008.

Selasa lalu, Senator AS mengajukan usulan aturan baru yang memungkinkan Paman Sam mengeluarkan sanksi kepada China jika gagal membuat nilai tukarnya menjadi lebih wajar. Pematokan nilai tukar dinilai telah membuat hubungan dagang AS-China menjadi tidak adil.

Aksi AS merupakan tanggapan atas pernyataan Perdana Menteri (PM) China Wen Jiabao yang mengatakan Beijing tidak akan tunduk kepada tekanan asing untuk mengubah kebijakan yuan. China telah mematok nilai tukarnya di 6,8 yuan per USD.

"Ekspektasi inflasi bisa dikelola dengan pengetatan kebijakan moneter dan penguatan nilai tukar, sementara kebijakan moneter telah menjadi risiko utama penggelembungan nilai aset," jelas Bank Dunia.

Bank Dunia memproyeksikan produk domestik bruto (PDB) China akan melonjak 9,5 persen tahun ini. Ramalan ini lebih tinggi dari target Beijing yang mematok pertumbuhan 2010 sebesar delapan persen setelah berekspansi 8,7 persen di 2009.

Pemulihan permintaan ekspor China dan lonjakan investasi real estate akan menjadi kunci pertumbuhan tahun ini. Sebab, belanja pemerintah mulai turun di 2010. Sementara, risiko inflasi tetap moderat. Ekspektasi inflasi bisa dikelola oleh pemerintah China.

"Kami menilai sangat penting untuk menjaga risiko kenaikan harga properti dan melakukan pengetatan semua kondisi moneter sebagai salah satu bagian yang harus dilakukan China," saran senior ekonom Bank Dunia Louis Kuijs.

China mengalami pemulihan ekonomi dari krisis global secara mengejutkan. Ekonomi tumbuh 10,7 persen di kuartal IV-2009. Lonjakan pertumbuhan disebabkan oleh stimulus ekonomi senilai USD586 miliar dan kucuran kredit besar di 2009.

Saat ini, Beijing mulai memperketat kucuran kredit untuk mengurangi tekanan inflasi. Langkah ini dilakukan agar tidak terjadi penggelembungan aset dan pemanasan ekonomi seiring melonjaknya utang.

Pengambil kebijakan telah dua kali meningkatkan persyaratan modal yang harus dipertahankan oleh perbankan. Tujuannya, untuk mengurangi kucuran pinjaman. China juga telah menaikkan suku bunga acuan untuk pinjaman tiga bulan dan surat utang jatuh tempo satu tahun.

Tapi, Bank Dunia menilai kenaikan suku bunga acuan dan penguatan yuan bisa mengurangi tekanan inflasi dan menyeimbangkan ekonomi. Kebijakan moneter perlu diperketat dibandingkan tahun lalu,saran Louis Kuijs.

Ardo Hansson, ekonom Bank Dunia lainnya menegaskan penguatan yuan merupakan bagian dari upaya menanggulangi inflasi. Minggu lalu 14 Maret, PM Wen menyatakan pelemahan ekonomi global terus mendorong risiko China dan Beijing harus menjaga agar kebijakan ekonominya tetap stabil.

"Kami akan terus menjaga kestabilan kebijakan kami," kata Wen. Dia menambahkan, jika terjadi perubahan kondisi ekonomi baik secara global maupun domestik, China akan mengubah kebijakan. Beijing akan berusaha sekuat tenaga untuk menghadirkan kebijakan yang lebih fleksibel terhadap perubahan, tambah Wen.
(Achmad Senoadi/Koran SI/ade)
TWITTER »
twit