Getting time...

Penguatan Yuan Ancam China

Kamis, 18 Maret 2010 18:34 wib
Foto: Corbis
Foto: Corbis
BEIJING - Dewan Promosi Perdagangan Internasional China (CCPIT) menyatakan penguatan yuan akan merusak eksportir padat karya Negeri Panda. Sektor garmen dan furnitur akan terguncang.

CCPIT mengatakan, hanya sekira 1.000 eksportir di 12 industri yang mampu menghadapi nilai tukar yuan yang kuat. Sementara, eksportir padat karya di sektor garmen dan furnitur tidak akan bertahan karena marjin mereka hanya tiga persen.

"Jika yuan menguat, perusahaan-perusahaan ini akan mengadapi risiko kehilangan marjin laba yang selama ini sudah sangat tipis," kata Wakil Ketua CCPIT Zhang Wei, seperti dilansir dari Reuters, Kamis (18/3/2010).

Saat ini, Pemerintah China menghadapi tekanan dari Amerika Serikat (AS) dan negara-negara Barat untuk membiarkan nilai tukar yuan terapresiasi. AS bahkan sudah mengeluarkan ancaman penerapan bea tambahan jika Beijing tidak melepas peg atas nilai tukarnya di 6,83 per USD yang telah dilakukan sejak pertengahan 2008.

Di dalam negeri, Pemerintah China mendapat tekanan untuk mempertahankan nilai tukar yuan. Tekanan ini semakin lama semakin kuat, papar Zhang, yang juga eksportir besar China.

Zhang mencontohkan, industri produsen kapal China telah mendapat pesanan senilai USD150 miliar. "Jika yuan menguat, industri galangan kapal ini akan mengalami kerugian besar. Hanya sedikit perusahaan di China yang melakukan lindung nilai (hedge) yuan," ujar dia.

Eksportir peralatan telekomunikasi dan produk mekanik juga akan terkena dampak negatif jika yuan naik. Sumber di Pemerintah China menyebutkan, pengusaha di wilayah pantai yang menjadi hub ekspor berpendapat penguatan yuan akan merugikan mereka.

"Sebab, industri di wilayah tersebut rata-rata memiliki marjin laba yang sangat kecil. Tapi memang diakui, bahwa perusahaan-perusahaan ini sangat fleksibel menghadapi perubahan kondisi pasar," jelas sumber tersebut.

"Perusahaan di wilayah hubungan ekspor bisa menciptakan keuntungan stabil karena tingginya volume produksi mereka. Jadi, apresiasi yuan bisa menjadi katalis yang bagus bagi perusahaan-perusahaan ini untuk mengadakan perubahan menuju sesuatu yang lebih baik. Ini yang ingin pemerintah lihat," ungkap sumber tadi.

Benar jika ketenagakerjaan menjadi perhatian utama. Tapi, kami juga melihat sudah ada kekurangan tenaga kerja di banyak wilayah. Jadi, saya pikir ini harus mulai dikelola dengan baik.

Sumber tadi memaparkan, melawan permintaan AS merupakan perbuatan kontraproduktif. Sulit bagi China untuk tunduk pada tekanan asing meskipun itu merupakan hal yang terbaik.

"Amerika tidak seharusnya berteriak dan menguliahi China. Jika mereka tidak memperkarakan, China akan secara diam-diam membiarkan yuan terapresiasi," kata sumber tersebut.

Senin lalu, Perdana Menteri (PM) China Wen Jiabao menolak anggapan bahwa nilai tukar yuan sudah terlalu murah (undervalued). Dia menuduh AS terlalu memolitisasi kebijakan pematokan nilai tukar yuan.

Sementara, Kementerian Keuangan China telah meminta pemerintah daerah Guangdong, Zhejiang, dan Shanghai untuk melakukan riset soal kemampuan perusahaan mengantisipasi apresiasi yuan. Riset ini akan dilakukan bulan depan.

Zhang menjelaskan, eksportir China telah mengantisipasi kemungkinan yuan menguat. Mereka telah menambah jumlah produk yang dimiliki dan mengalihkan pasar dari AS dan Eropa ke Afrika, Amerika Latin, dan Timur Tengah.

Pengalihan ekspor telah berhasil menolong banyak eksportir China menghadapi penguatan yuan sebesar 21 persen pada periode Juli 2006 hingga Juli 2008. Tapi, perusahaan membutuhkan waktu untuk melakukan penyesuaian, papar Zhang. (Yanto Kusdiantono/Koran SI/ade)
TWITTER »
twit