JAKARTA - Aliran dana asing diperkirakan masih akan membanjiri pasar saham di Indonesia dalam beberapa waktu ke depan karena membaiknya fundamental ekonomi.
Selain itu, terjaganya suku bunga dalam level rendah, membuat investor asing menjadikan pasar modal Indonesia sebagai persinggahan potensial.
”Ini tidak terlepas dari kondisi fundamental emiten-emiten yang cukup baik.Asing mengharapkan adanya dividen yield, biasanya itu kan di bulan April. Karena itu, mereka mulai masuk menjelang periode tersebut,” ujar Kepala Riset Bhakti Securities Edwin Sebayang di Jakarta, kemarin.
Dengan kondisi tersebut, kata Edwin, dana asing masih akan mengaliri pasar saham setidaknya hingga periode April, yaitu pada saat emiten membagikan dividen.
Pekan ini, asing kemungkinan kembali masuk seiring dengan keluarnya sejumlah laporan keuangan sejumlah emiten yang belum mengeluarkan laporan keuangan periode buku 2009.
Di samping itu, kata Edwin, nilai tukar mata uang rupiah yang membaik juga menjadi sentimen positif lain dari dalam negeri. Sementara itu, dari global dan regional, sentimen positif masih terjaga seperti halnya pekan lalu. ”Trennya masih positif sehingga masih terbuka kemungkinan dana asing masuk lagi,” paparnya.
Pekan lalu, asing melakukan pembelian bersih (net buy) sebesar Rp1,93 triliun. Selama tiga pekan pertama di Maret ini, asing juga telah melakukan aksi beli secara perlahan. Di mana selama periode 1-19 Maret 2010, nilai bersih asing total mencapai Rp4,52 triliun.
Dari data tersebut, terlihat bahwa asing mulai melakukan akumulasi saham sejak awal Maret 2010. Di mana pada periode tersebut, baik kondisi regional, global maupun dalam negeri cukup kondusif.
Munculnya pernyataan Bank Sentral Amerika Serikat pekan lalu, untuk mempertahankan suku bunganya, juga menjadi momentum masuknya dana asing dalam jumlah besar.
”Sentimen ini membuat indeks mengalami lonjakan tinggi. Meskipun sempat terjadi aksi ambil untung dari spekulan. Namun,secara keseluruhan indeks berada dalam tren positif,” tambah Kepala Riset Dhana Wibawa Arta Cemerlang Ketut Tri Bayuna.
Jika aksi ambil untung tidak terjadi, Ketut optimistis IHSG bisa melaju lebih kencang, bahkan menembus level tertinggi sepanjang sejarah di level 2.830 yang terakhir terjadi 9 Januari 2008 lalu. Meski begitu, dia menilai aksi ambil untung sangat wajar terjadi dalam jangka pendek.
Dirjen Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan Rahmat Waluyanto menegaskan, meski hingga saat ini jumlah investor asing di SUN meningkat signifikan, namun pemerintah tidak berencana membatasi kepemilikan asing pada instrumen tersebut. ”Pelaku pasar SUN yang paling aktif adalah investor asing dan peran mereka menjadi pengerek pasar. Tidak ada pembatasan,” ujar dia.
Menurut dia, pembatasan merupakan kebijakan pasar yang sangat tidak bersahabat dan bisa menjatuhkan kepercayaan pasar. (juni triyanto/j erna)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.