JAKARTA - Nilai tukar rupiah mengalami penguatan kembali, walau indeks harga saham gabungan (IHSG) dilanda profit taking, ternyata tak lantas terjadi aksi capital outflow.
Berdasarkan data yahoofinance, Senin (22/3/2010), rupiah ditutup melemah tipis ke posisi Rp9.131 per USD, dengan kisaran perdagangan Rp9.099-Rp9.139 per USD.
Sementara berdasarkan data kurs tengah Bank Indonesia (BI), rupiah justeru mengalami penguatan. Di mana rupiah ditutup di level Rp9.116, lebih rendah jika dibandingkan perdagangan hari sebelumnya yang berada di Rp9.125 per USD.
Dikutip dari situs Valbury, aset-aset berisiko tinggi mengalami tekanan karena berkembangnya concern defisit Yunani menjelang Euro Summit minggu ini. Bursa saham Wall Street terkoreksi dari level tertingginya selama 17 bulan akibat menguatnya safe-haven USD dan merosotnya harga komoditas seperti minyak.
Mata uang euro dan mata uang ber-yield (suku bunga) lebih tinggi mengalami tekanan, yang memicu penguatan USD (sebagai safe-haven) secara global. Bahkan euro mengalami performansi mingguan terburuknya sejak Januari 2010 akibat berkembangnya concern defisit Yunani menjelang EU-Summit (25-26 Maret 2010) minggu ini.
Pelaku pasar akan menantikan apakah pertemuan petinggi Uni Eropa ini akan melahirkan rencana konkrit untuk perbaikan defisit Yunani. Sementara pihak Yunani sendiri mengatakan akan berpaling ke IMF untuk meminta bantuan solusi masalah defisitnya tersebut.
Harga emas juga terkoreksi dari penguatannya, yang kembali memperkuat inverse-correlation terhadap USD. Di sesi awal akhir minggu kemarin harga emas sempat ikut menguat bersamaan dengan penguatan USD.
Emas kembali terkoreksi mendekati area USD1.100 per troy ounce setelah India menaikkan suku bunganya. Sementara penguatan USD memberikan tekanan pada harga minyak hingga mendekati area USD80 per barel. (wdi)
(Rani Hardjanti)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.