Mengembalikan Kejayaan Tenun Kulonprogo

\Mengembalikan Kejayaan Tenun Kulonprogo\
Ilustrasi : Ist.

DWI Santoso, perajin tenun asal Kulonprogo, mampu menghidupi 30 karyawan yang juga warga sekitar rumahnya.

Keberanian melakukan inovasi produk menjadi kunci sukses bagi Dwi Santoso, 31. Berkat inovasinya,tenun Kulonprogo yang sempat meredup menemukan kembali kejayaan.

Tenun menjadi kerajinan yang banyak digeluti masyarakat di Kulonprogo. Kerajinan ini sempat mengalami masa kejayaan pada era 1960 hingga 1970-an.

Melalui produk setagen (ikat pinggang berbahan kain dengan lebar sekitar 15 cm), tenun menjadi salah satu tumpuan hidup sebagian masyarakat. Produk setagen saat itu banyak digunakan para kaum hawa dalam keseharian. Biasanya setagen ini dililitkan pada perut untuk memperkuat jarit sebagai pakaian bawah. Kini setagen hanya digunakan untuk perempuan usai hamil demi merampingkan perut. Masa kejayaan ini pun sempat dirasakan oleh Darmo Wiharjo ayah dari Dwi Santoso. Di rumahnya yang terletak di Pedukuhan Janti Kidul, Desa Jati Sarono,Kecamatan Nanggulan Kulonprogo, Yogyakarta, usaha setagennya dirintis.

Usaha ini mampu mempekerjakan 10 orang tenaga kerja. Sayang usaha ini akhirnya bangkrut akibat terjangan krisis ekonomi di era 1997. Dampak krisis ini tidak membuat Dwi Santoso yang kala itu tengah menyelesaikan studi di Fakultas Teknik Jurusan Kimia Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) patah semangat.Selaku anak bungsu dari dua bersaudara, dia merasa tertantang untuk melanjutkan bisnis keluarga yang ambruk diterjang badai krisis moneter. Niatan itu benar-benar memuncak saat dia melaksanakan praktek kuliah kerja nyata (KKN) di wilayah Seyegan, Kabupaten Sleman.Salah satu program yang ditawarkan ke masyarakat adalah kegiatan ekonomi produktif. Program tenun yang pernah dilakoni keluarganya mulai diajarkan kepada warga. Gayung bersambut dari tetangganya yang masih eksis mengerjakan usaha tenun.

Saat itulah dia diberi beberapa produk yang tidak lagi terpakai untuk dibawa ke lokasi KKN. Bukan hanya itu,dia juga diberi kesempatan untuk menjualkan tirai dari bambu (kerai) yang dimodifikasi dengan tenun. “Lumayan tirai ini cukup laku di pasar lokal Yogyakarta,” jelas Dwi Santoso. Dari bisnis inilah, suami Devi Handayani mulai mengenal pasar tenun. Bahkan, beberapa pengusaha dan supplier besar mulai dikenalnya. Dari sinilah dia mulai memberanikan diri terjun ke dunia tenun. Awal usahanya dimulai pada awal 2001 silam. Kala itu, dia hanya memproduksi kerai dan penyekat ruangan dari bambu. Bambu yang dipotong tipis-tipis, dikombinasikan dengan kain tenun menjadi peranti anggun. Produk ini pun mulai ditawarkan kepada supplierdan diterima dengan baik.

Seiring perkembangannya, dia pun kenal dengan supplier yang berskala internasional. Setidaknya ada tiga supplier berskala besar yang terus menjalin kerja sama. Dari sanalah dia mendapatkan order dengan produk- produk yang sudah ditentukan. Mulai dari box, taplak lidi, place mate, table manner, bantal agel hingga beberapa produk lain. Produk ini kebanyakan dilempar ke mancanegara, khususnya di Amerika Serikat. Namun kerap produk ini juga dikirim ke beberapa negara di benua Eropa seperti Jerman, Swiss, Belanda. Di awal usahanya, Dwi Santoso hanya menggunakan 10 alat tenun yang merupakan peninggalan orang tuanya. Tahap ini pun hanya mempekerjakan sekitar 10 orang tetangganya sebagai pekerjaan sampingan. Ayah dari Alisya Kinarya Nirwastuti ini pun terus menekuni bisnis kerajinan hingga akhirnya dia mulai mengibarkan usahanya dengan label “Kindo” tenun art and craft. Nama perusahaannya ini diilhami nama anaknya, yang berarti karya untuk Indonesia.

Kini setelah sembilan tahun menekuni usahanya, pria berambut panjang ini mampu mempekerjakan sekitar 30 orang tenaga kerja. Peralatan yang digunakan pun mulai bertambah menjadi 30 unit. Jika pada awal usaha hanya menggunakan modal sekitar Rp13 juta, kini bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta. Tidak mengherankan jika dari usaha ini, omzet yang diterimanya per bulan mencapai Rp100 juta, bahkan lebih. Sementara total asetnya bisa mencapai lebih dari Rp125 juta. Untuk menghasilkan produk ini, Dwi Santoso memanfaatkan seluruh sisi rumahnya sebagai lokasi workshop. Sebagian alat tenun diletakkan di sisi samping rumah yang sekaligus garasi. Adapun bagian dapur digunakan untuk lokasi pewarnaan.

Bagian depan dijadikan front office sekaligus tempat menaruh produk yang siap dilempar ke pasar. Kendati mampu menghasilkan omzet ratusan juta, bisnis tenun juga banyak menghadapi kendala. Di antaranya sumber daya manusia pekerja,bahan baku,dan masalah modal. Jaringan pemasaran yang hanya mengandalkan pesanan dari supplier pun menjadi bayang-bayang hitam. Menurutnya, kebanyakan pekerja merupakan tetangga sekitarnya. Saat memasuki masa panen padi, banyak dari mereka yang tidak masuk.Kondisi ini akan kembali terjadi jika ada tetangga yang mempunyai hajatan.Banyak yang akan mangkir kerja dengan alasan kehidupan sosial. Keberadaan pekerja sebagai aset tak ternilai terus dipertahankan.

Mereka diupayakan diberi kompensasi yang setimpal agar tetap loyal.Keterbatasan keterampilan dan keahlian yang dimiliki terus dipompa dengan pembelajaran. Sebab kebanyakan order yang masuk merupakan produk dengan inovasi baru. Diakuinya,pesanan yang sifatnya baru, merupakan tantangan tersendiri.Kebanyakan pengusaha tenun akan menolak pesanan dengan motif yang baru. Hal ini menjadikan peluang usaha tersendiri. Dwi Santoso tidak pernah mengatakan tidak terhadap order yang disampaikan supplier. Apa pun bentuk dan material yang dibutuhkan akan diterima.Caranya dengan mencoba dan memanfaatkan contoh yang diberikan. Alhasil,setiap contoh yang ada mampu dikerjakan dengan cepat dan cermat.Setiap produk yang dikirim selalu diseleksi dengan ketat.

Produk yang cacat akan langsung disortir. Proses ini pun diawasi langsung perwakilan dari supplier.Tahapan pengecekan dilakukan dua kali untuk memastikan produk yang dikirim adalah produk yang sempurna.Adapun produk yang cacat akan diperbaiki agar hasilnya lebih baik. “Produk kita jamin kualitasnya dan ini yang diminati pasar,” tuturnya. Dinamisnya pesanan pasar menjadikan dia terus aktif. Bahan baku yang dipergunakan kian bervariasi.Mulai dari enceng gondok, bambu, serat gebang, akar wangi hingga lidi kelapa ataupun aren. Untuk mendapatkan material seperti itu, dia harus mencari hingga keluar daerah. Beberapa wilayah di Jawa Tengah telah dimasuki hanya untuk mendapatkan bahan baku.

Masalah permodalan pada awalnya menjadi beban yang sulit dipecahkan.Pertama kali membuka usaha, modal meminta kepada orang tuanya dan sedikit hasil penjualan kerai. Seiring kemajuan usahanya,masalah modal tidak lagi menjadi kendala. Ini terjadi seiring terjadinya hubungan kerja sama dengan Bank Rakyat Indonesia (BRI). Sebagai mitra binaan BRI, Dwi Santoso mendapat kucuran kredit dengan nilai mencapai Rp25 juta. Dari uang inilah dia mampu menambah modal usaha untuk membeli bahan baku. “Pembayaran dari supplier dengan sistem tempo, tetapi adanya kredit dari BRI bisa untuk modal,” tambahnya. Kucuran kredit dari BRI dirasa memiliki peran yang cukup penting dalam usahanya. Setiap produk yang dikirim ke pemesan baru dibayarkan seminggu, bahkan sebulan dari produk diserahkan. Praktis untuk mengerjakan produk baru diperlukan modal banyak.

(rhs)

Glossary

  • Abuse of Process

    Suatu aksi yang memboroskan waktu atau yang menggannggu, misalnya mengajukan kembali suatu perkara yang sudah diputuskan oleh pengdilan yang berwenang adalah pemakaian hak sewenang-wenang. Pengadilan itu dapat tinggal diam atau membubarkan aksi yang demikian.

  • Akuisisi

    Penggabungan badan usaha dengan cara menguasai sebagian besar saham badan usaha lain. Dengan akuisisi, dua atau lebih badan usaha tersebut tetap eksis secara hukum dan badan usaha yang menguasai saham paling besar menjadi induk perusahaan yang harus menyajikan laporan keuangan konsolidasi. Jadi, pada prinsipnya saham atau aset dari suatu perusahaan dibeli atau diambil alih oleh pihak lain baik perusahaan atau perorangan.

  • Agen Penjual

    Perusahaan Efek yang ditunjuk sebagai agen untuk menjual saham baru kepada masyarakat.

  • Afiliasi

    Hubungan keluarga karena perkawinan dan keturunan sampai derajat kedua, baik secara horisontal maupun vertikal. Hubungan antara pihak dengan pegawai direktur atau komisaris dari pihak tersebut. Hubungan antara perusahaan dengan pihak yang secara langsung atau tidak langsung mengendalikan, dikendalikan, atau di bawah suatu pengendalian dari perusahaan tersebut atau, Hubungan antara perusahaan dengan pemegang saham utama.

  • Agio

    Nilai yang dimaksudkan ke dalam modal sendiri yang berasal dari selisih harga jual dikurangi nilai pari suatu emisi saham yang berasal dari dalam portepel dan dicatat di dalam akun (rekening) tersendiri yang juga bernama AGIO.

  • Aktiva Tidak Berwujud (Intangible Asset)

    Aktiva nonmoneter yang dapat diidentifikasi dan tidak memiliki wujud fisik serta dimiliki untuk digunakan dalam menghasilkan barang atau jasa, disewakan kepada pihak lainnya, atau untuk tujuan administratif.

  • Bad Faith

    Pada umumnya ialah yang bertalian dengan fraud yang sebenarnya atau yang direncanakan, atau maksud untuk menipu atau memalsu; suatu kelalaian atau penolakan dengan sengaja untuk memenuhi suatu kewajiban atau utang. An act in bad faith adalah suatu tindakan yang tidak dipenuhi oleh suatu kekhilafan yang jujur atau karena tidak mengetahui, akan tetapi oleh suatu motif yang jahat atau yang mementingkan diri sendiri.

  • Balance Sheet

    Suatu pernyataan mengenai aktiva dan pasiva sesuatu perusahaan pada suatu waktu tertentu, seperti yang dibedakan dari suatu income statement, yakni yang memberi laporan tentang apa yang telah terjadi selama suatu jangka waktu.

  • Batasan Pada Jaminan Nasabah

    Nilai maksimum dari Efek dan atau saldo kredit yang dapat ditahan oleh Perusahaan Efek sebagai jaminan penyelesaian pesanan terbuka dan kewajiban nasabah lainnya yang tidak termasuk kewajiban dalam Rekening Efek Marjin.

  • Batasan Pada Jaminan Nasabah

    Nilai maksimum dari Efek dan atau saldo kredit yang dapat ditahan oleh Perusahaan Efek sebagai jaminan penyelesaian pesanan terbuka dan kewajiban nasabah lainnya yang tidak termasuk kewajiban dalam Rekening Efek Marjin.

  • Biro Administrasi Efek

    Pihak yang berdasarkan kontrak dengan Emiten melaksanakan pencatatan pemilikan Efek dan pembagian hak yang berkaitan dengan Efek.

  • Book-Entry Settlement

    Penyelesaian Transaksi dilakukan dengan mendebit dan mengkredit Efek pada rekening kustodian.

  • Blue Chip

    Saham blue chip atau blue chip Stocks, merupakan saham biasa dari suatu perusahaan yang memiliki reputasi tinggi, sebagai leader di industri sejenis, memiliki pendapatan yang stabil dan konsisten dalam membayar dividen.

  • Brexit

    Brexit alias British Exit adalah pristiwa kala Inggris meninggalkan zona Uni Eropa

  • Cabotage

    Asal mulanya dari bahasa Prancis, yakni pelayaran melalui pantai seperti yang dibedakan dari pelayaran atau perdagangan samudra. Sekarang dalam dunia pengangkutan udara, adalah operasi-operasi dalam negeri berlainan dengan operasi internasional.

  • Capital, Invested

    Suatu istilah yang kadang-kadang dipakai untuk menggambarkan jumlah uang tunai dan aktiva yang dibayarkan ke dalam suatu perusahaan plus semua surplus yang diperoleh yang dikembalikan kepada perusahaan itu. Jadi, ia adalah suatu sinonim untuk the net worth daripada suatu perusahaan. Biasa juga disebut dengan istilah Kapital yang ditanam.

  • Capital, Equity

    Suatu istilah untuk bagian dari dana yang dipakai dalam suatu perusahaan yang telah ditanamkan atau diinvestasikan oleh para pemiliknya, bukan yang dipinjamkan oleh para kreditur. Secara bebas diartikan, suatu surat efek, seperti saham biasa, yang mewakili kepemilikan dalam suatu perusahaan.

  • Calon Perusahaan Tercatat

    Perseroan Terbatas yang telah mengajukan surat permohonan pencatatan Efeknya di Bursa.

  • Capital Asset Pricing Model (CAPM)

    Suatu teori penetapan harga aktiva dimana tingkat pengembalian dari aktiva atau surat berharga tersebut adalah sebesar tingkat bunga bebas risiko ditambah dengan faktor penyesuaian sebesar risk premium dikalikan dengan risiko sistematik aktiva tersebut.

  • Capital Gain

    Keuntungan yang diperoleh karena perbedaan antara harga beli dan harga jual suatu efek. Apabila perbedaan tersebut bersifat negatif (rugi) disebut capital loss.

  • Conflict of Interest (benturan kepentingan)

    Perbedaan antara kepentingan ekonomis perusahaan dengan kepentingan ekonomis pribadi direktur, komisaris, atau pemegang saham utama perusahaan.

  • Cash flow

    Biasa di sebut aliran kas, merupakan sejumlah uang kas yang keluar dan yang masuk sebagai akibat dari aktivitas perusahaan. Dengan kata lain, aliran kas yang terdiri dari aliran masuk dalam perusahaan dan aliran kas keluar perusahaan serta berapa saldonya setiap periode.

  • Capital Expenditure (capex)

    Atau pengeluaran modal, adalah investasi dalam bentuk asset atau infrastruktur Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang diperlukan untuk memberikan, memperluas dan atau meningkatkan kualitas layanan public. Nilai buku asset akan disusut (depresiasi) selama umur ekonomisnya yang wajar (kecuali tanah).Yang termasuk Capex antara lain : pembangunan atau pembelian jaringan, server dan PC, perangkat lunak, bangunan, dan tanah.

  • Date of Exportation

    Hari tanggal barang dagangan meninggalkan suatu negara menurut kenyataannya. Pemungut bea biasanya menganggap atau menetapkan harga pasar barang-barang yang diekspor itu sebagai harga pada hari yang tertentu itu.

  • Default (Kelalaian)

    Kekhilafan atau kelalaian untuk melaksanakan atau memenuhi suatu kewajiban atau utang; kelalaian untuk memenuhi suatu utang bilamana sudah habis temponya; terutama yang di bawah kontrak. Misalnya saja kelalaian melakukan pembayaran promisory note, obligasi atau hipotek atau suatu dividen, atau pembayaran bunga atas suatu obligasi atau surat efek lainnya, bilamana sudah habis temponya.

  • Daftar Hasil Kliring Netting (DHK Netting)

    Dokumen elektronik hasil Kliring secara Netting yang dilakukan oleh KPEI yang berisikan hak dan kewajiban setiap Anggota Bursa Efek yang timbul dari Transaksi Bursa yang terjadi di Pasar Reguler dan Pasar Tunai.

  • Daftar Hasil Kliring Netting (DHK Netting)

    Dokumen elektronik hasil Kliring secara Netting yang dilakukan oleh KPEI yang berisikan hak dan kewajiban setiap Anggota Bursa Efek yang timbul dari Transaksi Bursa yang terjadi di Pasar Reguler dan Pasar Tunai.

  • Daftar Kurs Efek (DKE)

    Daftar Kurs Efek (DKE) daftar harian yang diterbitkan bursa efek yang memuat keterangan tentang efek yang tercatat, kurs efek, volume, nilai dan frekuensi transaksi, tawaran beli jual, indeks harga saham dan lain-lain yang berkaitan dengan transaksi bursa.

  • Daftar Kurs Efek (DKE)

    Daftar harian yang diterbitkan bursa efek yang memuat keterangan tentang efek yang tercatat, kurs efek, volume, nilai dan frekuensi transaksi, tawaran beli jual, indeks harga saham dan lain-lain yang berkaitan dengan transaksi bursa.

  • Depresiasi

    Atau penyusutan, adalah alokasi jumlah suatu aktiva yang dapat disusutkan sepanjang masa manfaat yang diestimasi. Penyusutan untuk periode akuntansi dibebankan ke pendapatan, baik secara langsung maupun tidak langsung.

  • Debt Ratio

    Merupakan total utang berbanding total aset. Rasio ini mengukur seberapa banyak aset yang dibiayai oleh hutang. Misalnya, rasio hutang 30 persen artinya, 30 persen dari aset dibiayai oleh hutang. Rasio hutang bisa berarti buruk pada situasi ekonomi sulit dan suku bunga tinggi, dimana perusahaan yang memiliki debt rasio yang tinggi dapat mengalami masalah keuangan, namun selama ekonomi baik dan suku bunga rendah maka dapat meningkatkan keuntungan.

  • Eased Off

    Suatu istilah yang dipakai di bursa efek dan komoditi apabila hal itu menunjukkan suatu reduksi atau pengurangan dalam harga-harga itu secara berangsur dan kecil.

  • Earning Asset

    Suatu istilah yang dipakai untuk investasi tertentu yang dibebani bunga modal dan yang diselenggarakan atau dikuasai oleh The Unitede Federal Reserve Banks. Investasi yang demikian dapat berupa uang kertas bank-bank anggota yang terjamin, uang yang didiskontokan untuk bank-bank anggota dan untuk federal reserve banks lainnya, bermacam-macam surat-surat wesel, dan dengan syarat-syarat tertentu, obligasi Amerika Serikat, sertifikat-sertifikat dan surat-surat utang.

  • Efek

    Surat berharga, yaitu surat pengakuan utang, surat berharga komersial, saham, obligasi, tanda bukti utang, Unit Penyertaan kontrak investasi kolektif, kontrak berjangka atas Efek, dan setiap derivatif dari Efek.

  • Efek

    Surat berharga, yaitu surat pengakuan utang, surat berharga komersial, saham, obligasi, tanda bukti utang, Unit Penyertaan kontrak investasi kolektif, kontrak berjangka atas Efek, dan setiap derivatif dari Efek.

  • Efek Beragun Aset Arus Kas Tetap

    Efek beragun aset arus kas tetap efek beragun aset yang memberikan hak kepada pemegangnya menerima pembayaran dengan jadwal tertentu, walaupun jadual pembayaran tersebut dapat berubah karena keadaan tertentu.

  • Efek Beragun Aset Arus Kas Tidak Tetap

    Efek beragun aset yang memberikan hak kepada pemegangnya untuk menerima pembayaran secara bersyarat dan dalam jumlah yang tidak tetap.