Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Harga Baja Diproyeksikan Terus Naik

Sandra Karina , Jurnalis-Senin, 26 April 2010 |20:02 WIB
Harga Baja Diproyeksikan Terus Naik
Foto: Corbis
A
A
A

JAKARTA - Harga baja diproyeksikan akan terus mengalami kenaikan hingga akhir tahun ini. Pada kuartal ke III, harga Hot Rolled Coil (HRC) akan berada di kisaran Rp9.200 per ton, dan Cold Rolled Coil (CRC) akan berada di kisaran Rp9.650 per ton.

Harga tersebut akan mulai berlaku sejak Mei 2010, dan akan dievaluasi setiap tiga bulan sekali. Direktur pemasaran PT Krakatau Steel (KS) Irvan Kamal Hakim  mengatakan, harga baja akan terus mengalami kenaikan, karena harga iron ore di dunia mengalami kenaikan hingga 103 persen.

“Harga iron ore di beberapa negara belum putus. China dan Eropa masih tarik ulur mengenai harga iron ore, sedang Jepang merilis harga ore naik hingga 190 persen, Korea naik 113 persen kita hanya naik 103 persen saja," jelas Irvan di Jakarta, Senin (26/4/2010).

Selain itu,  kenaikan harga baja, kata Irvan, juga dipacu oleh permintaan yang meningkat dari industri. China, kata dia, sebagai pemakai baja terbesar, mengalami kenaikan permintaan baja hingga 20 persen pada kuartal I-2010, bila dibandingkan kuartal sama di 2009. Sedangkan negara-negara lain selain China, menurutnya, mengalami peningkatan yang cukup tinggi juga.

“Baja dunia diprediksikan akan mengalami peningkatan produksi hingga 12 persen dibanding 2009, ini dikarenakan peningkatan aktivitas kontruksi dan industrial produk," terangnya.

Irvan mengatakan, permintaan baja dalam negeri juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Dari 2009 sebesar 390 ribu ton di kuartal I, menjadi 593 ribu ton di kuartal sama di 2010.

Lebih lanjut, Irvan menjelaskan, kenaikan harga baja di 2010 ini, berbeda dengan kenaikan yang terjadi di tahun 2008 lalu. Irvan menilai, kenaikan harga baja tahun ini akan bersifat permanen dibanding 2008.

“2008, baja meningkat karena demand yang tinggi, disebabkan adanya prediksi barang-barang komoditas akan naik, sedangkan 2010 ini lebih kepada meningkatnya harga bahan baku dalam hal ini adalah iron ore,” jelasnya.

Selain itu, kenaikan harga baja, lanjutnya, juga dikarenakan perusahaan baja ingin meraih untung di 2010 ini. Karena 2009 lalu, kata dia, baja mengalami keterpurukan.

“Tahun 2008, perusahaan baja masih untung, karena enam bulan pertama harga baja masih bagus, sehingga keterpurukan enam bulan berikutnya masih tertutup. Sedangkan 2009 adalah masa recovery krisis ekonomi, membuat baja tidak berproduksi bahkan menjual lebih rendah, sehingga tahun ini mereka tidak dapat menahan kenaikan bahan baku,tapi dengan memperkecil keuntungan,” tuturnya.

Sementara itu, kenaikan harga iron ore menurut Irvan, dikarenakan peningkatan permintaan iron ore. Karena pabrik baja mulai beroperasi dengan kapasitas penuh.

Selain itu, kenaikan terjadi juga dikarenakan sulitnya mendapatkan bahan baku iron ore yang sesuai. Kenaikan iron ore, menurutnya, juga dipacu oleh meningkatnya biaya logistik di mana salah satunya adalah transportasi. “Sekarang, tempat tambang bijih besi sebagai bahan baku tidak semudah dulu, jauh dari pelabuhan, jadi biaya kirim lebih mahal,” terangnya.

Berdasarkan data KS, harga bahan baku baja seperti iron ore, naik dari USD96,99 per dmtu menjadi USD196,77 per dmtu pada kuartal ke II dan naik menjadi USD200 per dmtu pada kuartal III.

Sedangkan Scrap juga mengalami kenaikan dari tahun 2009 sebesar USD243 per ton mejadi USD458 per ton dikuartal II dan USD500 per ton pada kuartal III tahun 2010. Hal sama juga terjadi pada Slab dari 2009 sebesar USD340 per ton menjadi USD735 per ton di kuartal I dan USD750 di kuartal ke II-2010.

Melihat pergerakan harga iron ore yang tidak menentu, industri baja internasional, menurut Irvan, memastikan mulai kuartal ke II ini, mengunakan kontrak harga triwulanan.

Walaupun mengunakan kontrak harga triwulanan, KS, menurut Irvan akan tetap melakukan kontrak jangka panjang terutama untuk kontrak infrastruktur pemerintah.

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement