Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Baja untuk Industri Automotif Bisa Naik Hingga 10%

Sandra Karina , Jurnalis-Selasa, 27 April 2010 |18:51 WIB
Baja untuk Industri Automotif Bisa Naik Hingga 10%
Baja. Foto: Corbis
A
A
A

JAKARTA - Ketua Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Gunadi Sindhuwinata menyatakan, porsi penggunaan baja untuk bahan baku industri automotif nasional bisa ditingkatkan.

"Bisalah ditingkatkan sampai 10 persen. Tapi kalau automotif, itu bermacam-macam dan spec-nya sangat berbeda sehingga butuh investasi yang banyak juga. Biasanya, beda spec, beda pabrik. Nah kita biasanya pilih prinsipal karena kualitasnya untuk automotif perlu baja ringan tapi kuat agar hemat BBM," kata Gunadi, di Jakarta, Selasa (27/4/2010).

Gunadi menyarankan, seharusnya Indonesia memfokuskan untuk memproduksi baja secara massal untuk kebutuhan semua sektor industri. Namun, lanjutnya, tidak ada salahnya mempergunakan, apabila memang ada yang sesuai untuk dipergunakan di industri automotif.

"Kalau untuk Indonesia seharusnya mengembangkan baja secara massal. Tapi kalau ada produk Indonesia, kita bisa pakai tapi sesuai dengan spec-nya. Kebutuhan baja automotif 400 ribu-500 ribu ton per tahun. Itu diisi oleh lokal, Jepang, Korea, China, dan Jerman. Jepang 70-80 persen, Indonesia lima persen itu 0,5 juta ton per tahun," tukasnya.

Seperti diketahui, porsi penggunaan baja sebagai bahan baku untuk industri automotif nasional hingga saat ini masih terbilang kecil, yakni hanya lima persen.

Automotif kebutuhan nasional untuk baja sebanyak 236 ribu ton untuk hot rolled coil (HRC) per tahun. Kalau cold rolled coil (CRC) 239 ribu ton per tahun. Kita hanya punya share lima persen. Share HRC lima persen, serta CRC lima persen.

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement