Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pupuk Kaltim Jalankan 4 Proyek Rp11 Triliun

Sandra Karina , Jurnalis-Selasa, 18 Mei 2010 |18:02 WIB
Pupuk Kaltim Jalankan 4 Proyek Rp11 Triliun
Ilustrasi. Foto: Corbis
A
A
A

JAKARTA - PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) telah menjalankan empat proyek dan pengembangan dalam rangka diversifikasi usaha, peningkatan kapasitas produksi dan efisiensi konsumsi bahan baku sejak 2009. Total nilai empat proyek tersebut adalah Rp11 triliun.

Direktur Utama PKT Hidayat Nyakman mengatakan, proyek pertama adalah boiler batu bara yaitu pembangunan boiler penghasil steam dengan menggunakan energi batu bara.

Hal ini adalah untuk mengantisipasi keterbatasan pasokan gas di masa mendatang. Boiler ini juga akan dimanfaatkan sebagai salah satu supporting utility untuk pabrik Kaltim 5. "Jumlah nilai empat proyek itu USD11 triliun lah. Boiler-nya sekira USD110 juta," kata Hidayat di Jakarta, Selasa (18/5/2010).

Menurutnya, proyek boiler batu bara itu didesain untuk memproduksi 440 ton per jam superheated steam. Boiler merupakan satu unit pendukung yang berfungsi menghasilkan uap air bertekanan tinggi (steam) yang dibutuhkan sebagai penggerak turbin untuk kebutuhan operasional pabrik.

Selama ini, untuk menggerakkan mesin di pabrik yang telah ada yakni Kaltim 1 hingga Kaltim 4, perusahaan menggunakan gas alam. "Tapi, seiring dengan makin terbatasnya jaminan pasokan gas, perusahaan mencoba menggunakan batu bara sebagai energi altematif," ujarnya.

Dengan dibangunnya boiler batu bara, Hidayat berharap, pihaknya bisa mengoperasikan keseluruhan mesin yang ada walaupun tetap menggunakan gas alam untuk mesin lainnya dengan dibangunnya boiler batu bara itu.

Hidayat menjelaskan, proyek boiler tersebut bisa meningkatkan produksi gas amoniak dari 1.700 menjadi 2.500 ton per hari. "Konversi gas untuk boiler sekira USD27 per MMBTU. Dan bisa meningkatkan produk gas amoniak kita. Dari 1.700 menjadi 2.500 ton per hari," jelasnya.

Proyek kedua yang dijalankan PKT, lanjutnya, adalah pembangunan lima unit pabrik pupuk NPK (nitrogen-phosphate-kalium) yang berkapasitas hingga satu juta ton per tahun. Proyek senilai USD350 juta itu ditargetkan rampung seluruhnya pada 2014.

"Bisnis NPK sampai 1 juta ton membutuhkan lahan yang sangat besar untuk penyimpanan bahan baku, pergudangan dan pabrik. Kami sudah menyiapkan lahan 28 hektare (ha) dan rencana pendirian empat dermaga baru yang besar," ucap Hidayat.

Hidayat menuturkan, proyek ketiga yang dijalankan PKT adalah proyek Kaltim 5 yaitu pembangunan pabrik dengan kapasitas 3.500 ton urea per hari dan 2.500 ton amoniak per hari.

"Pabrik ini, akan meningkatkan kapasitas produksi PKT menjadi sekira 3,4 juta ton urea per tahun dan 2,1 juta ton amoniak per tahun," kata Hidayat.

Proyek terakhir yang dijalankan PKT, menurut Hidayat, adalah pengembangan kelapa sawit. Untuk proyek ini, kata dia, PKT bekerja sama dengan PTPN XIII, di mana PKT mendirikan anak perusahaan PT Kalianusa yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit.

Untuk tahap awal, lanjutnya, luas perkebunan yang terletak di Kutai Timur tersebut adalah sekitar 13.000 hektar (ha). "Kelapa sawit sudah mulai penanaman sejak tahun lalu. Kebun kita dari 7.000 ha menjadi 13.000 ha. Nanti nambah terus. Baru sebagian yang tertanam. Jumlahnya saya nggak ingat," paparnya.

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement