Uni-Charm Ekspansi Bangun Pabrik USD27 Juta

|

Sandra Karina - Koran SI

Foto: Corbis

Uni-Charm Ekspansi Bangun Pabrik USD27 Juta
KARAWANG - Produsen pembalut wanita, popok bayi dan manula PT Uni-Charm Indonesia melakukan ekspansi berupa pembangunan pabrik baru pada tahun ini senilai USD27 juta.

Pabrik baru ini  berkapasitas sebesar 2,5 kali lipat dari kapasitas pada saat ini yaitu 80 juta pieces per bulan, dan akan dijadikan sebagai basis produksi semua produk Unicharm di Asia.

"Pabrik baru ini diutamakan untuk memproduksi baby pampers,"kata Presiden Direktur Unicharm Indonesia Yoshihiro Miyabayashi di Karawang, kemarin.

Menurutnya, pabrik baru Uni-Charm ini dibangun diatas lahan seluas 12 hektare (ha). Sebelumnya, Uni-Charm juga telah membangun pabrik pertama di Karawang seluas 3,6 ha. “Ke depannya, kita akan melakukan perluasan pabrik lagi, hingga sebesar stadion sepakbola,” ujarnya.

Yoshihiro memaparkan, angka penjualan dari Uni-Charm terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada 2002, lanjutnya, penjualan mencapai Rp100 miliar, lalu naik pada 2006 menjadi Rp500 miliar, Rp1 triliun di 2008, dan kembali meningkat pada 2009 menjadi Rp2 triliun. Yoshihiro menuturkan, pihaknya menargetkan angka penjualan sebesar Rp2,5 triliun untuk tahun ini, dan Rp5 triliun pada 2015.

Yoshihiro menjelaskan, produk Uni-Charm memiliki porsi pangsa pasar yang cukup besar di Indonesia. Produk popok bayi Momypoko memiliki porsi pangsa pasar sebesar 50 persen, sedangkan pembalut wanita Charm sebesar 40 persen. “Kedua produk itu menjadi andalan di pasar Indonesia,” ucapnya.

Sementara itu, Menteri Perindustrian (Menperin) MS Hidayat menyambut baik ekspansi yang dilakukan oleh PT Uni-Charm Indonesia. Pada saat ini, menurutnya, hampir semua produk Uni-Charm adalah untuk pasar dalam negeri.

"Karena enggak ada saingan. Dia nomor satu di dunia. Dan dia berjanji mau mendirikan basis produksi setidaknya untuk Asia," kata  Hidayat.

Hidayat menjelaskan, sebanyak 97 persen dari total produksi Uni-Charm dijual untuk kebutuhan pasar dalam negeri. Sisanya yang tiga persen diekspor ke negara lain, seperti Malaysia dan Philipina.

Hidayat mengungkapkan, Jepang berencana untuk merelokasi industrinya yang lain ke wilayah Bekasi atau Karawang, yang dinilai cocok menjadi sentra industri. "Ada kebutuhan dari Jepang untuk merelokasi industrinya lagi ke daerah Bekasi atau Karawang," tuturnya.

Bupati Karawang, lanjutnya, sudah melakukan penawaran kepada Jepang. "Jadi syaratnya adalah harus membangun pelabuhan baru supaya tidak terganggu oleh pelabuhan Tanjung Priok," tukas Hidayat.

Bupati Karawang Dadang S Muchtar menyatakan, pihaknya akan menyediakan lahan seluas 6.000 Ha untuk dijadikan kawasan industri. Menurutnya, pada saat ini hampir semua prinsipal automotif asal Jepang telah memiliki pabrik perakitan di kabupatennya. "Ada sekitar tujuh titik yang bisa dijadikan kawasan industri," kata Dadang.

Karawang, lanjutnya, mampu  menarik investor asing dan dalam negeri. Pada saat ini, investor asing, lanjutnya, telah mendominasi struktur investasi di Karawang, yakni sekira 80 persen dari keseluruhan nilainya. Di mana pada 2009, kata dia, totalnya adalah sekira Rp84 triliun dari berbagai macam sektor, mulai dari automotif, alat musik hingga elektronika.

Terkait kendala infrastruktur, Dadang mengatakan, pihaknya tengah melakukan studi kelayakan untuk pembangunan pelabuhan bongkar muat di Cilamaya.

Dadang menilai, tol Karawang Barat, Karawang Timur dan Dawuan cukup memadai untuk menunjang kawasan industri yang sudah ada maupun yang sudah direncanakan. Kemungkinan besar, Dadang akan menambah pembangunan satu jalan tol lagi yakni tiga kilometer sebelum Cikampek.
(ade)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Insinyur Lokal Terbuka untuk Bangun Indonesia