ilustrasi. foto: corbis
JOHANNESBURG - Studi Mckinsey Global Institute menyatakan pertumbuhan ekonomi Afrika akan melebihi potensi komoditasnya. Investor dan pebinis tidak bisa mengacuhkan potensi besar ini.
Menurut McKinsey, produk domestik bruto (PDB) Afrika tumbuh 4,9 persen sepanjang 2000 hingga 2008. Ini mengukuhkan Afrika sebagai wilayah dengan pertumbuhan terbesar ketiga di dunia.
Pada 2008, total PDB Afrika tercatat USD1,6 triliun dan berpotensi meningkat menjadi USD2,6 triliun dalam 10 tahun mendatang.
“Kami menemukan bahwa lonjakan pertumbuhan ekonomi Afrika telah menyebar diseluruh negara-negara. Seluruh sektor juga mulai mengalami perkembangan yang cukup tinggi. Lonjakan ini melebihi booming yang terjadi pada komoditas global,” ujar studi tersebut, dilansir dari Reuters, Selasa (29/6/2010).
Dari studi ini muncul fakta baru potensi ekonomi nonkomoditas Afrika melonjak melebihi potensi komoditas. Selama periode 2000 hingga 2008, sumber daya alam (SDA) ternyata hanya memberikan kontribusi sebesar 24 persen PDB Afrika.
Berikutnya, pertumbuhan ekonomi terjadi pada level sama-sama tinggi, baik pada negara yang memiliki ekspor komoditas maupun tidak.
“Memang tetap ada risiko pertumbuhan di masing-masing negara di Afrika. Analis kami memprediksi prospek pertumbuhan jangka panjang Afrika sangat kuat,” ungkap McKinsey.
McKinsey mengakui, pertumbuhan dimasa mendatang tetap ditopang oleh permintaan global atas komoditas. Kemampuan Afrika untuk menciptakan kerja sama baru dengan investor asing dan meningkatnya akses modal internasional ke benua hitam juga akan menjadi motor pertumbuhan.
Afrika memiliki pasar konsumen yang besar dan terus berkembang dimasa mendatang. Pada 2008, belanja rumah tangga Afrika tercata USD860 miliar- melebihi belanja di India ataupun Rusia.
Belanja rumah tangga Afrika diprediksi meningkat menjadi USD1,4 triliun pada 10 tahun mendatang jika PDB terus tumbuh pada level yang terjadi saat ini.
Pasar tenaga kerja Afrika 2040 diprediksi mencapai 1,1 miliar. Jika ini terealisasi maka pasar tenaga kerja Afrika melewati China dan India pada 2040. McKinsey meramalkan pertumbuhan belanja konsumen di Afrika akan menciptakan pasar yang mampu menarik perusahaan global.
Berdasarkan perhitungan MGI, akan terjadi lonjakan belanja konsumen di lima kota utama di Afrika dalam 10 tahun mendatang. MGI mengestimasikan belanja rumah tangga di Alexandria, Cairo, Cape Town, Johannesburg, dan Lagos akan melonjak menjadi USD25 miliar pada 2020.
Pasar konsumen di lima kota tersebut hanya bisa disamai dengan potensi yang ada di kota besar di India, seperti Mumbai atau New Delhi.
“Potensi bisnis di Afrika sangat-sangat besar, terutama untuk perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang konsumsi, sumber daya alam, pertanian, dan infrastruktur,” papar MGI.
Sektor konsumsi di Afrika, termasuk barang-barang konsumsi, telekomunikasi, dan perbankan, saat ini tumbuh dua hingga tiga kali lebih cepat dibandingkan pertumbuhan yang terjadi di negara-negara anggota Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (Economic Co-operation and Development/OECD). Produksi pertanian di Afrika berpotensi meningkat dari USD280 miliar pada 2010 menjadi USD880 miliar pada 2030.
Jika sektor sumber daya alam, pertanian, dan infrastruktur dimasukkan, total pendapatan tahunan sektor konsumsi di Afrika bisa melonjak menjadi USD2,6 triliun pada 2020.
“Pengusaha dan investor global tidak bisa mengabaikan potensi ekonomi Afrika yang sangat menggiurkan untuk dikembangkan,” ujar studi Mckinsey. (Achmad Senoadi/Koran SI/ade)