Image : Corbis.com
BAGI beberapa kota dengan biaya hidup murah, uang terasa masih ada harganya. Namun di beberapa kota maju, harga kebutuhan pokok sehari-hari melambung tinggi. Uang semakin tidak berharga.
Tekanan inflasi, kenaikan harga kebutuhan pokok hingga tingkat penghasilan yang tak kunjung membaik semakin membuat seolah uang hasil jerih payah bekerja selama sebulan tidak ada harganya. Biaya hidup semakin meningkat, pengeluaran membengkak, pendapatan tak kunjung bertambah. Namun ternyata ada beberapa kota yang biaya hidupnya sangat murah.
Survei biaya hidup yang dilansir beberapa lembaga bisa menjadi salah satu referensi bagi Anda yang sedang berencana untuk bepergian atau bahkan menetap di luar negeri. Beberapa kota mendapat predikat sebagai kota termurah sebagaimana dilansir dalam hasil survei biaya hidup Mercer 2010. Laporan yang menilai sebanyak 214 kota di dunia itu menempatkan Karachi, salah satu kota di Pakistan, sebagai yang termurah di dunia dengan peringkat ke-214 dari 214 kota yang dinilai.
Biaya untuk sewa apartemen mewah dengan dua kamar tidur di Karachi sebesar USD353 atau sekitar Rp3,2 juta. Sementara harga secangkir kopi di sebuah kafe di kota terbesar di Pakistan itu sebesar USD2,24 atau Rp21.000. Ingin merencanakan makan malam kelas bisnis dengan kolega di Karachi? Anda cukup menyiapkan uang USD43 atau Rp390. 000. Sementara harga 1 liter bensin sebesar USD1,03 atau Rp9. 400.
Karachi merupakan kota pelabuhan utama dan pusat bisnis keuangan di Pakistan. Kota ini terpilih sebagai kota paling murah tahun 2010 setelah nilai mata uang rupee melemah 6, 17% pada tahun 2009. Menurut CIA World Factbook, angka inflasi di Pakistan melompat dari 7, 7% tahun 2007 menjadi 20, 3% tahun 2008 dan 14, 2% tahun 2009. Sebagaimana dilansir BusinessWeek (29/6), Karachi yang memiliki populasi 18 juta orang merupakan salah satu kota penting.
Buktinya beberapa perusahaan multinasional menancapkan cabangnya di kota ini seperti IBM, Chevron, Abbott Laboratories. Sementara di belahan dunia lain, yakni di North Carolina, negara bagian Amerika Serikat (AS), biaya hidupnya juga tergolong murah. Sebuah kota di sana bernama Winston-Salem yang didiami hanya oleh 230.000 jiwa penduduk dengan pendapatan per kapita rata-rata USD35.500 menempati peringkat ke-17 sebagai kota termurah di dunia.
Winston-Salem merupakan satu-satunya kota dari negara anggota G-8 yang masuk dalam daftar 20 kota termurah di dunia. Menurut Mercer, rata-rata harga sewa apartemen di Winston- Salem sebesar USD450 per bulan. Sementara harga sewa apartemen di Managua, Nikaragua dan Islamabad, Pakistan lebih mahal, yakni USD800 per bulan. Padahal, Managua dan Islamabad berada di posisi kedua dan ketiga kota termurah.
Secara berurutan, 20 kota dengan biaya hidup termurah setelah Karachi (1), Managua (2), dan Islamabad (3) adalah La Paz, Bolivia (4), Ashkhabad, Turkmenistan (5), Bishkek, Kirgistan (6), Addis Ababa, Ethiopia (7), Kolkata, India (8), Tegucipalpa, Honduras (9), dan Windhoek, Namibia (10). Kemudian, Asuncion, Paraguay (11), Gaborone, Botswana (12), Tashkent, Uzbekistan (13), San Salvador, El Salvador (14), Tirana, Albania (15), Tunis, Tunisia (16), Winston-Salem, AS (17), Skopje, Makedonia (18), Sarajevo, Bosnia Herzegovina (19), Chennai/Madras, India (20).
Survei Mercer itu memeringkatkan biaya hidup bagi kalangan bisnis dengan menggunakan pola gaya hidup sama seperti di kota asal ketika mereka harus bekerja di luar negeri. New York, AS, digunakan sebagai kota dasar untuk indeks dan semua penilaian lain. Pergerakan keuangan diukur berdasarkan dolar AS. Biaya hunian kerap menjadi biaya terbesar bagi para ekspatriat, sehingga memainkan peranan penting dalam menentukan peringkat sebuah kota.
Peringkat didasarkan pada data lebih dari 200 produk konsumsi, termasuk tempat tinggal, transportasi, makanan, pakaian, kebutuhan rumah tangga, dan hiburan. ”Rata-rata biaya sewa tempat tinggal, makanan, dan hiburan di sebuah kota kecil di AS bisa jadi memiliki harga yang sama. Namun jika tidak, hal itu berarti harus mengimpor dari negara lain dengan harga lebih mahal,” ujar peneliti senior Mercer Nathalie Constantin- Métral.
Bahkan, di lokasi tempat semua biaya hidup secara keseluruhan cukup murah, menurut Nathalie, ada beberapa fasilitas yang memang secara global mahal.
Sebagaimana di Karachi, meskipun harga sewa apartemen sangat jauh lebih murah dibandingkan di banyak kota lain di dunia, tapi biaya untuk membeli secangkir kopi ternyata tidak jauh dengan harga di kota negara maju. Membeli secangkir kopi di sebuah kafe di Karachi membutuhkan sekitar Rp21.000. Adapun di Managua, Nikaragua, harga secangkir kopi di kafe hanya USD1,82 atau Rp17.000.
Makan malam kelas bisnis di Managua juga hanya USD44 atau Rp398.000 yang harganya tidak jauh berbeda dengan Karachi. Sementara harga 1 liter bensin USD0,81 (Rp7.330). Ingin menonton konser artis internasional di Managua, maka harus menyiapkan uang sebesar USD53 (Rp480.000). Jika ingin menyewa apartemen di Kota La Paz, Bolivia, Anda cukup membayar USD650 (Rp5, 9 juta) per bulan. Sementara harga secangkir kopi di sebuah kafe di kota ini USD2, 42 (Rp22. 000).
Untuk biaya makan malam kelas bisnis sebesar USD32 (Rp290. 000). Adapun tiket untuk menonton konser artis internasional di kota ini seharga USD47 (Rp426. 000). Sewa apartemen di Lapaz lebih mahal jika dibandingkan dengan di Ashgabat, Turkmenistan, yang sebesar USD300 (Rp2,7 juta). Namun harga secangkir kopi di Ashgabat lebih mahal USD4, 56 (Rp42.000).
Selain itu harga kemeja bermerek di Asghabat USD130 (Rp1,1 juta), jauh lebih mahal ketimbang di La Paz yang hanya USD65 (Rp588.000). Survei Mercer menempatkan Jakarta di posisi ke-120 dalam daftar kota dengan biaya hidup termurah tahun 2010 ini. Sementara dalam daftar kota termahal, Jakarta menempati urutan ke-94 dari 214 negara. (abdul malik/islahuddin/koran si)
(//rhs)