Foto: Koran SI
JAKARTA - Tantangan dunia industri Indonesia semakin berat di masa depan, terutama akibat derasnya implementasi liberalisasi ekonomi.
Hal ini disampaikan Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Investasi, Transportasi, Informasi dan Pariwisata Chris Kanter di Jakarta, Rabu (21/7/2010).
“Kondisi itu memaksa produk-produk nasional lebih kompetitif di pasar global. Agar lebih kompetitif, diperlukan pasokan energi yang memadai dengan harga yang juga kompetitif,” katanya.
Chris yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) ini menilai agar industri manufaktur berdaya saing, para pengusaha yang terhimpun dalam Kadin juga harus ikut berbenah. Sebagai lembaga, menurutnya, Kadin harus bisa mandiri dan tidak terjebak oleh kepentingan sesaat.
Selain itu, Kadin harus menjaga keseimbangan baik sebagai perwakilan dunia industri maupun sebagai mitra sejajar yang tetap kritis terhadap pemerintah.
“Kadin tidak boleh dijadikan perpanjangan tangan pemerintah serta membela kepentingan partai politik tertentu,” katanya.
Jika Kadin terjebak dalam kepentingan politik sesaat, ujarnya, industri nasional justru sulit menemukan nilai kompetitifnya Karena itu, dunia industri selalu membutuhkan stabilitas untuk bisa berkembang.
Kepada pemerintah, dia mengharapkan agar dapat terus menjaga stabilitas politik dan ekonomi agar target pertumbuhan industri pada tahun ini tetap terjaga mengingat instabilitas di kedua sektor itu dapat mengguncang pertumbuhannya.
Selain itu, Chris juga meminta pemerintah agar menjaga momentum pertumbuhan industri dengan memberikan kepastian pasokan energi listrik, batu bara, dan gas dengan merombak tata kelola energi nasional.
Selama ini, sebagian besar sumber energi nasional terutama gas justru diekspor untuk kepentingan perusahaan manufaktur asing.
Diketahui, pertumbuhan industri pengolahan non-migas (manufaktur) nasional di kuartal I-2010 mencapai 4,01 persen. Pertumbuhan ini didorong cabang industri alat angkut, mesin, dan peralatan serta cabang industri semen dan galian nonlogam.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) optimistis, melihat tren peningkatan investasi yang realisasinya diperkirakan terus meningkat, pertumbuhan industri manufaktur bisa mencapai lima persen pada kuartal II-2010. (Sudarsono/Koran SI/ade)