ilustrasi. foto: corbis
JAKARTA - Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Dedi Mulyadi mengatakan saat ini, belum terjadi deindustrialisasi secara menyeluruh di semua sektor industri.
“Negara kita belum terjadi deindustrialisasi secara keseluruhan tapi kalau dilihat ke sektor-sektor memang ada indikasi, terutama industri barang kayu dan hasil hutan, itu sudah terjadi gejala deindustrialisasi,” kata Dedi di Jakarta, Senin (26/7/2010).
Kemenperin mencatat, pertumbuhan industri barang kayu dan hasil hutan pada 2004 minus 2,07 persen, 2005 minus 0,92 persen, 2006 minus 0,66 persen, 2007 minus 1,74 persen, 2008 sebesar 3,45 persen, 2009 minus 1,46 persen. Sedangkan pada kuartal I 2010 dibandingkan kuartal IV 2009 pertumbuhannya adalah minus 6,97 persen.
“Yang dikatakan deindustrialisasi terjadi di dalam kurun waktu yang cukup lama, harus diatas lima tahun itu terjadi penurunan secara signifikan, bukan hanya pertumbuhan, tapi peranan terhadap PDB, lalu ekspor menurun, dan tenaga kerja menurun,” jelasnya.
Selain industri barang kayu dan hasil hutan, lanjut Dedi, industri lain yang terdeteksi akan mengalami deindustrialisasi yakni logam dasar, besi dan baja. “Indikasi kedua adalah industri baja, karena pertumbuhannya turun terus, salah satunya karena banyak produk impor ilegal yang masuk ke Indonesia,” ucapnya.
Pertumbuhan industri logam dasar, besi dan baja pada 2004 minus 2,61 persen, 2005 minus 3,70 persen, 2006 sebesar 4,73 persen, 2007 sebesar 1,69 persen, 2008 minus 2,05 persen, 2009 minus 4,53 persen. Sedangkan untuk kuartal I-2010 dibandingkan kuartal IV-2009, pertumbuhannya adalah minus 2,31 persen.
Menurut Dedi, dua sektor industri tersebut, mengalami penurunan yang relatif lebih banyak dibandingkan kenaikannya.
“Dua sektor tersebut paling teridentifikasi karena penurunannya relative lebih banyak dibandingkan peningkatannya, sementara sektor industri lain ditopang oleh faktor pendukung, misalnya makin banyak jumlah tenaga kerja yang terserap, ekspor meningkat, dan lain sebagainya,” tegas Dedi.
Dedi menjelaskan, langkah-langkah untuk memperlambat deindustrialisasi adalah dengan melakukan konsep reindustrialisasi.
“Melakukan reindustrialisasi jadi memperbaiki masalah yang diluar, misalnya energi dan infrastruktur. Gejala deindustrialisasi akan dipecahkan dengan konsep reindustrialiasi,” imbuhnya.
Dedi memaparkan, ada atau tidaknya deindustrialisasi di Indonesia dapat ditinjau pada empat indicator yaitu kontribusi industri terhadap ekonomi, pertumbuhan industri, perkembangan ekspor, dan penyerapan tenaga kerja.
Pada 2009, sektor industri pengolahan masih menjadi penyumbang tertinggi terhadap produk domestik bruto (PDB) yakni 26,4 persen, di mana mengalami penurunan dibandingkan 2005 yang sebesar 27,4 persen, namun untuk industri nonmigas sedikit mengalami peningkatan dari 22,4 persen pada 2005 menjadi 22,6 persen pada 2009.
Dedi menjelaskan, perkembangan ekspor total industri nasional selama tahun 2004-2008 mengalami pertumbuhan sebesar 48,13 persen. Pertumbuhan ini, kata dia, disumbang oleh 12 industri yang tumbuh selama empat tahun terakhir sebesar 48,12 persen.
“Total nilai sumbangan nilai ekspor berkisar USD73 juta, dibandingkan tahun 2004 yang berkisar USD43 juta,” tuturnya.
Dedi menambahkan, secara keseluruhan sektor industri dalam periode 2004-2009 telah memberikan kontribusi penyerapan tenaga kerja sebesar 1,5 juta orang.
Berdasarkan, data BPS, jumlah penduduk yang bekerja di sektor industri sebesar 12,19 juta orang pada Februari 2008. Pada Agustus 2008 sejumlah 12,24 juta orang. Februari 2009 12,08 juta orang. Agustus 2009 sejumlah 12,24 juta orang. Februari 2010 sejumlah 12,15 juta orang.
“Hal ini menunjukkan bahwa penyerapan tenaga kerja di sektor industri dari 2008 sampai Februari 2010 relatif stabil,” pungkasnya. (Sandra Karina/Koran SI/ade)