JAKARTA - Perusahaan minyak dan gas (migas) asal Afrika Selatan Afsel (Sasol) saat ini mempelajari peluang investasi gasifikasi batu bara di Indonesia.
"Itu sektor yang paling besar. Rencananya, nilainya lebih dari USD6 miliar. Tapi tidak tahun ini, mungkin tahun depan. Mereka membawa teknologi baru ke Indonesia. Tapi, mereka minta persyaratannya banyak, seperti penyikapan fiskal dan sebagainya," kata Menteri Perindustrian (Menperin) MS Hidayat di Bekasi, Rabu (28/7/2010).
Sementara itu, Wakil Ketua Umum (WKU) Kadin bidang Investasi dan Perhubungan Chris Kanter menilai, Indonesia sudah mempunyai strategi yang bagus untuk mendongkrak nilai investasi yang masuk baik dari luar maupun dalam negeri. Dia mencontohkan, pelayanan terpadu satu pintu (PTSP) dan Nasional Single Window (NSW).
"Indonesia, India, dan China merupakan negara-negara yang mampu bertahan di tengah krisis global yang terjadi beberapa waktu lalu. Sehingga investor pun melihat kondisi ini yang mampu menggambarkan kalau Indonesia masih berpotensi sangat besar dan iklim usaha kita juga membaik," ujarnya.
Di sisi lain, dia menambahkan, Undang-Undang (UU) perburuhan yang belum direvisi dapat menghambat kinerja investasi di Indonesia. Selain itu, kata dia, masalah mengenai tata ruang dan pasokan energi juga masih menghambat arus investasi yang masuk.
"Kalau ini semua dibereskan oleh pemerintah, maka peningkatan realisasi investasi bisa lebih dari 40 persen, bahkan akan berlipat-lipat naik. Karena 40 persen itu tidak cukup, dan saya yakin Indonesia sangat mampu dan bisa untuk mencapai peningkatan yang lebih dari itu," pungkas Chris.
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.