Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Semester I, Laba Pupuk Kaltim Rp370 Miliar

J Erna , Jurnalis-Sabtu, 31 Juli 2010 |08:24 WIB
Semester I, Laba Pupuk Kaltim Rp370 Miliar
ilustrasi. foto: corbis
A
A
A

JAKARTA - PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) pada semester I-2010 berhasil membukukan laba sebelum pajak mencapai Rp421,636 miliar. Sementara itu, laba yang berhasil diperoleh perseroan pada periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp370 miliar.

“Laba sebelum pajak semester ini masih lebih tinggi dibandingkan semester I tahun lalu. Laba hingga akhir tahun diharapkan bisa Rp1 triliun,” ujar Direktur Keuangan PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) Eko Sunarko, di Jakarta, kemarin.

Dia menjelaskan, naiknya laba tersebut ditopang naiknya harga rata-rata pupuk semester I-2010 dibanding harga rata-rata pupuk pada tahun lalu.

Untuk harga urea nonsubsidi naik sekira 28 persen dan amoniak naik sekira 50 persen. Adapun, penjualan pupuk nonsubsidi, seperti penjualan pupuk amoniak, penjulan pupuk untuk kebun dan industri memberi kontribusi sebesar 84,6 persen terhadap laba perseroan. Sementara itu, sisanya sekira 15,4 persen disumbang dari penjualan pupuk subsidi.

Sementara untuk pendapatan, Eko mengaku, mengalami penurunan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Hal itu terjadi karena volume pupuk yang dijual, terutama untuk pupuk bersubsidi penyerapannya di bawah target Kementerian Pertanian. Adapun, pendapatan semester I tahun ini Rp3,5 triliun, sedangkan tahun lalu mencapai Rp3,7 triliun.

Namun, sambung Eko, menurunnya pendapatan dibarengi menurunnya beban pokok yang ditanggung perusahaan. Beban pokok perseroan semester I tahun lalu sebesar Rp2,634 miliar, sedangkan tahun ini menjadi Rp2,367 miliar.

“Meski pendapatan kami turun, tapi beban pokok kami juga berhasil ditekan, sehingga laba PKT semester ini meningkat dibandingkan semester I-2009,” ungkap dia.

Sementara itu, total aset perseroan per akhir Juni 2010 sebesar Rp8,68 triliun. Nilai ini meningkat  dibanding periode yang sama tahun lalu, yakni senilai Rp7,2 triliun.

Adapun, belanja modal (capital expenditure/capex) perseroan tahun ini senilai Rp1,6 triliun. Dari nilai itu sekira 30 persen dari internal perusahaan dan sebanyak 70 persen berasal dari eksternal berupa pinjaman PT Bank Mandiri Tbk, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI), dan Bank Central Indonesia (BCA). Sementara itu, capex yang sudah terserap hingga saat ini sebesar Rp312,5 miliar.

Penyerapan tersebut sedikit terkendala karena ada beberapa proyek yang mundur. Salah satunya, pembangunan pabrik NPK Fuse Granulation dengan kapasitas 2x200 ton per tahun yang agak molor karena masalah di lapangan, seperti kesiapan lahan. Pembangunan pabrik yang berlokasi di Bontang itu sudah dimulai sejak 2008 dan ditargetkan rampung tahun ini.

Proyek PKT lainnya di tahun ini, diantaranya boiler batu bara  senilai USD110 juta, yang ditargetkan bisa beroperasi awal 2012 dan proyek pengembangan kelapa sawit bekerjasama dengan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XIII, dengan nilai proyek Rp400 miliar.

Sementara itu, pembangunan Pabrik Kaltim V saat ini sudah memasuki proses tender kontraktor. “Akhir Agustus kami harapkan penawaran sudah masuk,” imbuhnya.

Pabrik berkapasitas 3.500 ton urea per hari dan 2.500 amoniak per hari, itu dapat meningkatkan kapasitas produksi PKT menjadi 3,4 juta ton urea per tahun dan 2,1 juta ton amoniak per hari. Dengan demikian, pengembangan proyek tersebut bisa meningkatkan produksi pupuk perseroan.

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement