Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pemerintah Optimis Target MDGs Tercapai

Insaf Albert Tarigan , Jurnalis-Selasa, 03 Agustus 2010 |11:42 WIB
Pemerintah Optimis Target MDGs Tercapai
Wapres Boediono. Foto: Reuters
A
A
A

JAKARTA - Pemerintah telah berhasil memangkas hingga setengah dari total penduduk yang hidup dengan penghasilan di bawah USD1 per hari dan meningkatkan deteksi, serta penyembuhan tuberkulosis melalui Directly Observed Treatment Short Course.

Demikian dikatakan Wakil Presiden Boediono dalam pidato pembukaan Kajian Uang Target Pembangunan Milenium (MDGs) di Asia dan Pasifik di Ballroom Hotel Four Seasons, Jakarta, Selasa (3/8/2010).

Boediono memaparkan, pada 2015, kemungkinan besar yang dapat dicapai adalah memastikan kesempatan setiap anak Indonesia untuk mendapat akses pendidikan dasar, menghapuskan kesenjangan gender pada pendidikan dasar dan menengah dan menekan rasio kematian balita.

"Pada tahun yang sama, pemerintah juga menargetkan menekan angka kematian ibu, memerangi HIV/AIDS dan meningkatkan tutupan lahan hutan. Namun, membutuhkan percepatan dan upaya khusus," kata Boediono, di depan 200 delegasi dari 25 negara Asia Pasifik.

Lebih lanjut Wapres menambahkan, kawasan Asia dan pasifik berada pada posisi yang lebih baik dalam mencapai target MDGs terutama apabila kerjasama regional dapat ditingkatkan. Adapun kunci pencapaian target MDGs dalam jangka pendek dan menengah, menuru dia, adalah tersedianya pendanaan yang cukup.

Karena itu, komitmen Montery tahun 2002 dan komitmen Gleneagles tahun 2005 yang mendesak  egara-negara maju membantu negara berkembang sebesar 0,7 persen dari produk nasional brutonya perlu direalisasikan.

Sebab, kata Wapres, dengan terjadinya krisis global. Komitmen yang disepakati negara maju nyaris tak terdengar lagi. Laporan PBB menyebutkan bantuan pembangunan dari negara-negara maju hanya 0,31 persen dari PNB.

Kedua, Wapres menyarankan negara yang memiliki cadangan fiskal yang cukup untuk terus menjalankan stimulus ekonomi pada pencapaian MDGs. Ketiga, perlu dikembangkan mekanisme alternatif dan inovatif untuk mendanai MDGs baik yang bersumber dari publik maupun swasta.

Keempat, Bagi negara yang memiliki ruang fiskal terbatas, sektor swasta dihimbau berkontribusi aktif. Kelima, usaha kecil dan menengah perlu diberi akses sektor keuangan karena perannya yang besar. "Namun, mereka seringkali terpinggirkan dari jasa sektor keuangan," katanya.

Keenam, wapres mendorong pendanaan perdagangan kepada negara berkembang yang tergantung pada penghasilan ekspor. Pasca-krisis, negara tersebut saat ini kesulitan mengekspor karena ketiadaan pendanaan.

Dalam jangka panjang, Wapres juga menekankan MDGs bukanlah tujuan akhir. Setelah 2015, perbaikan harus terus berlanjut. "Landasannya pertumbuhan ekonomi yang tinggi, menyebar, berkelanjutan dan stabil," ujarnya.

(Widi Agustian)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement