Getting time...

Rupiah Menguat, Industri Mebel Bakal Merosot

Kamis, 5 Agustus 2010 19:03 wib
Foto: Koran SI
Foto: Koran SI
JAKARTA - Ketua Umum Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Ambar Tjahyono mengatakan industri mebel pada kuartal I dan II naik sekira 15 persen. Namun, setelah Juni 2010, akan merosot, karena permintaan dari Eropa akan menurun karena adanya krisis di sana dan penguatan rupiah.

"Jadi, rupiah sekarang sudah menguat sampai Rp8.800, untuk ekspor kita sudah kehilangan marjin 15 persen, dalam empat sampai enam bulan ke depan akan semakin merosot, dengan adanya penguatan rupiah,” kata Ambar, di Jakarta, Kamis (5/8/2010).

Bahkan, lanjutnya, kenaikan TDL yang akan mulai berlaku pada Agustus tahun ini, akan makin mempengaruhi industri mebel karena beban yang ditanggung akan semakin tinggi.

"Kita sudah mengajukan penolakan ke Komisi VI, tapi seluruh asosiasi menerima, tapi kami tetap menolak kenaikan yang sebesar 10-18 persen, karena industri kami akan mati, jadi Mari (Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu) jangan bangga dengan kenaikan ekspor karena memang kondisi diluar sedang bagus," tegasnya.

Terkait dengan penurunan pertumbuhan industri kayu dan barang kayu, menurutnya, memang terjadi penurunan.

"Di sektor ini, mebel paling positif pertumbuhannya, tapi sektor kayu olahan dan panel, selalu berada di posisi minus karena kalah saing dengan produk China, Thailand, dan Filipina yang harga jualnya lebih murah, ditambah lagi isu ilegal logging dan eco labelling kayu, Malaysia sudah menerapkan eco labelling pada produknya, sedangkan Indonesia belum," jelasnya.

Pertumbuhan sektor industri, Dedi menjelaskan, tidak dipengaruhi oleh penguatan rupiah dan redenominasi.

“Itu faktor psikologi. Nilainya tidak berubah. Ekonomi kita kan stabil. Malah memperbaiki investasi. Yang namanya peningkatan fluktuatif kan jelek. Yang penting stabil rupiahnya,” ungkapnya. (adn) (Sandra Karina/Koran SI/rhs)
TWITTER »
twit