Ilustrasi
JAKARTA - Ketergantungan impor BBM dapat melonjak hingga 50 persen pada 2017 jika Indonesia belum bisa menambah kilang untuk memenuhi kebutuhan BBM dalam negeri.
Saat ini, sebanyak 30 persen kebutuhan BBM Indonesia dipenuhi dari impor. Dengan penambahan konsumi BBM yang rata-rata mencapai 3,5 persen per tahun, diperlukan penambahan infrastruktur kilang yang cukup besar untuk menjaga ketahanan stok nasional.
"Kekurangan kapasitas kilang pada 2008 mencapai 150 ribu barel per hari (MBSD). Pada 2012, diperkirakan mencapai 300 MBSD dan sekira 600 MBSD pada 2017," ungkap Mantan Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Achmad Faisal, sebagaimana dikutip dari situs resmi Ditjen Migas, di Jakarta, Rabu (11/8/2010).
Untuk kawasan Asia Pasifik, kilang terakhir kali dibangun pada 1998. Khusus Indonesia, kilang yang usianya paling muda dan dapat memberikan keuntungan adalah kilang Balongan yang dibangun pada 1994.
Sementara untuk kilang-kilang lainnya, keuntungannya sangat kecil karena telah berumur tua karena dibangun tahun 70-an.
“Kilang Balongan merupakan satu-satunya kilang Pertamina yang ekonomis. Kilang Pertamina lainnya keuntungannya sangat kecil karena dibangun tahun 70-an,” tegasnya.
Minimnya pembangunan kilang tak lain karena faktor keekonomian. Biaya investasi yang terlalu besar, sementara keuntungan relatif kecil. Untuk membangun satu unit kilang berkapasitas 150 MBSD, diperlukan investasi sekitar USD5 miliar. Sedangkan untuk kilang kapasitas 600 MBSD, diperlukan biaya USD20 miliar.
Untuk menggairahkan investor swasta membangun kilang, pemerintah semestinya memberikan insentif fiskal yang memadai. Pembangunan kilang bisa juga dilakukan pemerintah melalui BUMN. (rhs)