JAKARTA - Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Dedi Mulyadi mengatakan, lonjakan impor yang makin membanjiri pasar dalam negeri dan defisit neraca perdagangan nonmigas Indonesia yang naik 2.551 persen sepanjang semester I tahun 2010 ini merupakan lampu kuning bagi sektor industri dalam negeri. Terutama defisit yang terjadi dengan China.
“Defisitnya (dengan China) bukan main. Industri diserbu barang impor. Impor dari China mencapai USD10,97 miliar, sedangkan ekspor hanya USD6,9 miliar. Ini sudah menjadi lampu kuning bagi industri dalam negeri,” kata Dedi di Jakarta, Kamis (2/9/2010).
Selain dengan China, lanjutnya, defisit perdagangan juga dicatat dengan negara-negara Asean yang memiliki kerja sama perdagangan bebas dengan Indonesia, misalnya Asean-China Free Trade Agreement (ACFTA) dan perdagangan bebas dengan negara-negara Asean (AFTA).
“Dengan Singapura pun kita defisit, impor yang banyak masuk dari negara ini adalah elektronik dan kimia. Dampak impor adalah produksi dalam negeri tergilas," ujarnya.
Menurutnya, impor memang tidak bisa dibendung. Impor, lanjutnya, hanya bisa dibendung oleh perilaku dan rasa cinta dari konsumen terhadap produk dalam negeri.
“Impor tidak bisa dibendung secara aturan, mungkin bisa kita bendung oleh behaviour dan rasa nasionalisme yang tinggi,” kata Dedi.
Bahkan, lanjutnya, SNI Wajib yang hingga saat ini tengah gencar diterapkan oleh pemerintah, ternyata kurang cukup ampuh untuk meredam lonjakan produk impor.
”SNI akhirnya tidak ampuh melawan impor. Kita memperbanyak SNI tapi tidak ampuh, walaupun masih bisa lah ya,” ujarnya.
Dedi menegaskan, yang harus diantisipasi adalah produk impor asal China.
“Yang harus kita anstisipasi betul adalah produk China. Kita juga musti antisipasi apakah produk yang beredar di pasar dalam negeri apakah legal. Sekarang dengan permintaan cukup tinggi menjelang Lebaran, spekulasi untuk impor makin tinggi,”jelasnya.
Ditemui di tempat terpisah, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengatakan, pada Juni-Juli sudah pasti terjadi lonjakan impor, terutama untuk produk jadi.
“Buat industri, akhirnya lebih banyak jadi penjual. Selain itu dari negara tetangga, seperti Singapura, Thailand dan Vietnam akan meningktakan pasarnya kesini melalui impor, karena Indonesia pasarnya bagus, dan di Indonesia semua bisa diterima,” kata Sofjan.
Maka dari itu, Sofjan menambahkan, pemerintah harus memperbaiki masalah logistik dan infrastruktur.
“Sementara kita sendiri kurang kompetitif dari segi logistik jadi orang banyak membeli barang dari Malaysia dan Singapura dan Philipina. Cost logistik kita lebih mahal, sehingga infratsruktur harus diperbaiki,” tukasnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai impor Indonesia Juli 2010 mencapai USD12,62 miliar atau meningkat 7,32 persen dibanding Juni 2010 yang besarnya USD11,76 miliar. Dan jika dibanding Juli 2009 mengalami peningkatan 45,35 persen. Sementara itu, selama Januari-Juli 2010 nilai impor mencapai USD75,56 miliar atau meningkat 50,93 persen jika dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari-Juli 2010 masih ditempati oleh China dengan nilai USD10,97 miliar dengan pangsa 18,18 persen, diikuti Jepang USD9,35 miliar (15,50 persen) dan Singapura USD5,77 miliar (9,57 persen). Sementara impor nonmigas dari ASEAN mencapai 22,67 persen dan Uni Eropa sebesar 8,82 persen. (adn)
(Rani Hardjanti)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.