Getting time...

November, Carrefour Merambah ke India

Safrezi Fitra - Okezone
Sabtu, 4 September 2010 13:43 wib
Salah Satu Gerai Carrefour di Indonesia. Foto: Ade/okezone
Salah Satu Gerai Carrefour di Indonesia. Foto: Ade/okezone
INDIA - Perusahaan ritel asal Prancis, Carrefour, rencananya akan membuka outlet pertamanya di India pada November tahun ini. Rencananya outlet tersebut akan dibuka di kota New Delhi.

Mengutip AFP, Sabtu (4/9/2010), Juru Bicara Carrefour Franck Kenner mengatakan pihaknya berencana untuk membuka toko pada November November mendatang.

Selain ingin membuka outlet grosir, Carrefour mengakui bahwa perusahaan juga berencana untuk membuka gerai langsung yang bukan hanya melayani grosir, namun konsumen langsung juga akan dilayani. Seperti yang mereka lakukan di negara lain.

Pihaknya pun mengacu pada keinginan perusahaan untuk melayani pelanggan toko melalui sistem gerai cash and carry. "Kami berharap hal itu (toko grosir) akan menjadi awal dari sesuatu yang lebih besar," kata Kenner.

Namun demikian, dia mengakui bila hal ini sebenarnya sulit dilakukan, mengingat aturan ketat di India yang membatasi investasi perusahaan asing yang masuk ke negara tersebut untuk "back-end" grosir.

Kenner mengatakan, pihaknya akan bekerja sama dengan petani setempat untuk meningkatkan metode pertanian mereka. Karena metode yang dipakai pertanian India saat ini kurang efisien.

Berdasarkan laporan dari Konfederasi Industri India, penyimpanan kuno India dan fasilitas pengolahan setidaknya membuang 30 persen hasil panen dan menghabiskan biaya sekira USD13 miliar per tahun.
 
Kenner menambahkan, Carrefour tetap berkomitmen menjadikan India sebagai potensi pasar yang besar. Hal ini dilakukannya di tengah pemberitaan media yang mengatakan bahwa pemain ritel di Eropa dan Asia ini sedang berjuang untuk mengambil alih aset-aset mereka di Asia Tenggara yang bernilai sekira USD1 miliar.

Angin segar yang diterima Carrefour dari Pemerintah India baru-baru ini membuka perdebatan adanya pelunakan terhadap pembatasan pemain asing di sektor ritel ini.

"Pemerintah India sepenuhnya sadar bahwa masalah back-end adalah kelemahan, di mana pemain asing dapat membantu keahlian mereka," kata Direktur Operasi Makanan Segar Carrefour di India, Yannick Douville.

Menteri Perdagangan India Anand Sharma menyampaikan bahwa dukungan pemerintah ini memungkinkan pemain asing ke dalam sektor ritel. "Hal ini dapat menghasilkan puluhan juta pekerjaan dari pemilahan sampai pengolahan dan juga mengarah pada pengembangan infrastruktur yang sangat dibutuhkan seperti gudang dan penyimpanan dingin," kata Sharma.

Douville pun setuju bila pengecer asing bisa membantu mengurangi limbah makanan dengan bekerja sama dengan petani. "Rantai pasokan India begitu berlapis dengan agen, komisi, dan grosir sehingga dapat meningkatkan waktu untuk memasarkan hal yang terbuang," tandasnya.

Oleh karena itu, kata Douvile, pihaknya di Carrefour berharap secara drastis bisa mengurangi kerugian sekira lima persen dengan membawa petani lebih dekat dengan operasi ritel. (ade)
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.
TWITTER »
twit