Efek Idul Fitri

Senin, 6 September 2010 10:27 wib
Logo BEI. Dok BEI
Logo BEI. Dok BEI
Lebaran sebentar lagi. Begitu kira-kira syair yang sering disenandungkan ketika menjelang Lebaran. Tidak lama lagi, tepatnya Jumat 10 September umat muslim di dunia akan merayakan sebuah Hari Raya Idul Fitri 1431 H.

Sebuah pesta kemenangan setelah selama sebulan penuh menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan, bulan penuh berkah. Dalam rangka merayakan kemenangan, sebagian negara terutama yang penduduknya mayoritas muslim, seperti Indonesia menjadikan Hari Raya Idul Fitri sebagai hari libur nasional.

Pada momen tersebut, Bursa Efek Indonesia (BEI) akan menutup kegiatan transaksi mulai Rabu 8 September sampai dengan Selasa 14 September. Bursa Efek akan kembali aktif seperti biasa pada Rabu 15 September.

Dari sisi investor, liburan Idul Fitri terbilang cukup panjang. Tercatat ada empat hari bursa tidak ada kegiatan transaksi efek. Investor, pialang, fund manager, dan pelaku pasar lain dapat menikmati Idul Fitri bersama keluarga di kampung halaman masing-masing, saling memaafkan dan memperdalam tali silaturahmi sembari berlibur menikmati Tunjangan Hari Raya (THR).

Untuk sementara waktu investor tidak perlu memikirkan naik turunnya harga saham dan tidak perlu cemas bahwa nilai portofolio akan turun. Namun begitu, dalam liburan panjang seperti ini ada dua momen yang perlu mendapat perhatian atau bahkan langkah antisipasi.

Pertama, momen menjelang atau sebelum Idul Fitri. Dalam beberapa penelitian menyebutkan bahwa liburan memiliki efek terhadap pola gerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa, baik bursa luar negeri maupun bursa dalam negeri.

Seringkali disebut efek liburan (holiday effect). Beberapa mahasiswa di Indonesia ada juga yang meneliti tentang efek liburan akhir pekan (weekend effect). Hasil penelitian menyebutkan bahwa setiap menjelang liburan terutama liburan panjang seringkali IHSG menunjukkan pola penurunan.

Penjelasannya begini, semua orang tahu bahwa kegiatan jual beli efek di pasar modal banyak dipengaruhi oleh sebaran informasi aktual. Naik turunnya harga saham sangat dipengaruhi oleh perkembangan informasi yang beredar.

Jika informasinya positif maka harga saham dan Indeks akan bergerak naik, sebaliknya jika informasi negatif maka akan memicu terjadinya tekanan jual sehingga harga saham dan indeks turun.

Saat liburan, tidak ada kegiatan jual beli saham di bursa. Akan tetapi yang namanya informasi tidak akan berhenti mengalir saat liburan. Untuk mengamankan portofolio dari kesimpangsiuran informasi yang mungkin timbul ketika liburan maka investor berpikir lebih baik melepas dulu portofolionya.

Harus diingat juga bahwa saat Idul Fitri tidak semua bursa libur. Jika BEI libur, bukan berarti bursa di Strait Time Singapura libur. Juga bursa-bursa regional seperti Hang Seng, Nikkei, Bursa di China, Wallsreet tidak libur. Maka jika ada saham yang sama listing di dua bursa (double listing), maka saham tersebut akan tetap bertransaksi, kendati di BEI tidak ada transaksi karena libur Idul Fitri.

Jika Indeks bursa regional selama liburan turun maka sebenarnya di atas kertas Indeks BEI juga terkoreksi. Namun, karena liburan Idul Fitri maka tidak terjadi perubahan indeks.

Kedua, momen setelah Lebaran. Seperti ditulis di atas bahwa selama Lebaran informasi terus mengalir dan bursa di luar negeri tetap beraktifitas.

Jika informasi yang beredar negatif dan bursa di luar negeri juga menunjukkan penurunan, maka saat BEI kembali dibuka dengan sangat cepat akan menyesuaikan diri dengan pasar (adjustment).

Fenomena seperti ini pernah terjadi pada 2008 lalu ketika ekonomi internasional diterjang badai krisis keuangan global. Saat itu, BEI libur dan pada saat bersamaan bursa di luar negeri mengalami tekanan jual luar biasa sehingga indeks mengalami koreksi.

Ketika BEI aktif kembali maka harga-harga saham yang sebelumnya tidak terpengaruh langsung bergerak menyesuaikan diri. Saat itu, mayoritas indeks global turun signifikan jika diakumulasi lebih dari 10 persen.

Begitu pun dengan IHSG yang langsung terpangkas sekira 10 persen. Penurunan pasar tadi mengalami adjustment karena saat BEI libur bursa-bursa dunia mengalami koreksi. Bagi investor yang mengamankan atau melepas terlebih dulu portofolio, maka ia selamat dari arus tekanan jual yang terjadi.

Pengalaman di 2008 memang belum tentu terjadi di 2010. Ketika menikmati libur Idul Fitri belum tentu ada informasi negatif yang mempengaruhi harga saham.

Namun begitu, adanya kecenderungan indeks turun menjelang libur lebaran perlu disikapi dengan bijak. Dengan begitu, Anda dapat menikmati liburan Idul Fitri dengan nyaman tanpa kuatir nilai portofolio Anda menyusut. Selamat merayakan Idul Fitri 1431 H. (Tim BEI) (//ade)
TWITTER »
twit