JAKARTA - Ada sentimen-sentimen yang mensinyalir bila yang membuat bursa Indonesia anjlok adalah harga sahamnya yang sudah relatif mahal. Namun nyatanya, hal itu tidak sepenuhnya benar.
Jika dibandingkan dengan negara lain, rata-rata price earning ratio (PE Ratio) di beberapa sektor saham kita tercatat masih jauh lebih rendah. Terbukti, hal itu tidak menyurutkan laju investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia.
Faktanya aliran dana asing masih terus masuk, dan sukses mengangkat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menyentuh level tertingginya sepanjang sejarah.
IHSG berhasil menembus angka 3,128.73 poin pada 23 Agustus 2010 atau sudah mengalami peningkatan sebanyak 553,32 poin (21,48 persen), dibandingkan penutupan awal tahun (4 Januari 2010) yakni sebesar 2.575,41. Peningkatan ini merupakan lonjakan bursa yang tertinggi di dunia.
Penguatan ini diperkirakan akan terus berlanjut menyusul belum optimalnya kinerja saham saham di sektor komoditas. Bersama dengan jasa keuangan, infrastruktur, dan consumer goods, sektor itu (komoditas) dipercaya akan menopang keperkasaan bursa.
"Namun, semua itu masih akan sangat bergantung pada laporan keuangan di kuartal ketiga ini. Meskipun cenderung positif, ada kemungkinan akan terganggu oleh potensi inflasi yang kian menanjak," kata Analis PT EkoCapital Securities Cece Ridwan, di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Sebelumnya, pihak BEI juga menargetkan nilai rata-rata transaksi harian di pasar modal kita bisa mencapai 4,5 triliun rupiah di 2010. Keyakinan itu ditopang oleh akan melantainya beberapa perusahaan besar pada kuartal keempat 2010 ini.
"Jadi walaupun sekarang transaksi agak sedikit lesu, kami optimis ke depannya akan kembali naik. Bahkan saya kira indeks berpeluang mencapai angka 3200 di akhir tahun," kata Direktur Utama BEI Ito Warsito, di Jakarta, belum lama ini.
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.