Kawat Baja. Foto: Krakatau Steel
TOKYO - Asosiasi Baja Dunia (WSA) memprediksi permintaan baja dunia akan meningkat 5,3 persen pada 2011 menjadi 1,34 miliar ton. Ini merupakan level tertinggi sejak semester I-2008.
“Peningkatan permintaan dipimpin oleh China, tapi Eropa juga terus mengomsumsi baja dalam volume yang tinggi,” kata WSA, dalam pernyataan tertulis, seperti dikutip Reuters Senin (4/10/2010).
WSA mengakui berakhirnya kebijakan stumulus oleh pemerintah di dunia bisa melemahkan permintaan baja. WSA menjelaskan, flukatuasi mata uang dunia bisa menjadi faktor yang mempengaruhi permintaan baja.
Pada 2010, kata WSA, permintaaan diramalkan naik 13,1 persen menjadi 1,27 miliar ton.”Permintaan baja China tahun depan bisa melonjak 42 persen dibandingkan kondisi 2007,” papar organisasi baja tersebut.
Di Tokyo, KFE Steel of Japan Corporation mengestimasikan permintaan China naik 45 persen pada 2011. Sementara, India akan menjadi produsen baja terbesar ketiga didunia setelah China dan Amerika Serikat (AS).
“Landscape industri baja telah berubah secara cepat, terutama setelah krisis keuangan global,” kata Hajime Bada, Presiden JFE Holdings Inc, yang juga Ketua WSA.
“Kita berada pada periode transisi, negara berkembang seperti China, India, negara-negara di Amerika Latin, dan Rusia meningkatkan produksi dan konsumsi baja, sementara permintaan di negara maju tetap stagnan,” imbuh dia.
WSA diprediksi akan mengangkat President Anshan Iron & Steel Corporation sebagai ketua WSA tahun depan. Ini merupakan pertama kali orang China menjadi pemimpin WSA.
Chief Executive Officer (CEO) Techint Group Paolo Rocca yakin permintaan China 2011 naik 42 persen dibandingkan level 2007. Tapi, permintaan di negara maju tahun 2011 akan lebih rendah 25 persen dibanding level 2007.
WSA menilai permintaan baja jangka panjang cukup sehat. Tapi perubahan harga bijih besi menjadi kuartalan menjadi masalah tersendiri. Masalah harga saat ini lebih pelik dibandingkan protes lingkungan.
“Jika Anda memiliki proyek konstruksi yang membutuhkan waktu pembangunan beberapa tahun, Anda butuh kepastian harga bahan baku yang akan dipakai. Tidak dipungkiri, fluktuasi harga baja bersifat jangka pendek karena volatailitas harga bahan baku dan beberapa isu lainnya,” Director General WSA.
Tahun ini, permintaan baja diprediksi tumbuh 13,1 persen menjadi 1,27 miliar ton atau lebih tinggi dari ramalan awal yang mengestimasikan hanya tumbuh 8,4 persen. Kenaikan terjadi karena adanya permintaan Eropa yang lebih tinggi dari ramalan, kebijakan restocking di negara-negara maju, dan paket stimulus pemerintah telah mendongkrak permintaan di negara berkembang.
Namun, berakhirnya kebijakan stimulus dan fluktuasi mata uang telah membuat outlook pasar baja suram. Secara domestik, permintaan baja di China diprediksi tumbuh hanya 3,5 persen dari estimasi awal naik 6,7 persen.
Ini merupakan konsekuensi dari upaya Pemerintah China untuk meredam penggelembungan aset di sektor properti dan kontrol produksi baja. Sementara, permintaan di India akan naik 13,6 persen pada 2011 menjadi 68 juta ton atau satu sepersepuluh permintaan China, yaitu sebesar 599 juta on. (Achmad Senoadi/Koran SI/wdi)