Tokyo Stock Exchange. Foto: topnews
TOKYO - Bursa saham Jepang tampaknya akan mencari aliansi sendiri jika merger multimiliar dolar antara Bursa Efek Singapura (SGX) dan Bursa Efek Australia (ASX).
Chief Executive Tokyo Stock Exchange (TSE) Atsushi Saito mengungkapkan kepada Financial Times jika SGX menawarkan USD8,2 miliar kepada ASX ke depannya, maka ini akan menjadi suatu "ancaman" bagi Tokyo.
"Jika Jepang menjadi terisolasi di panggung internasional, maka ini akan menjadi tidak bagus. Akan ada banyak kombinasi dari TSE dan lainnnya secara internasional," kata Saito, dilansir dari AFP, Rabu (27/10/2010).
Dia menggambarkan bagaimana tawaran yang diusulkan SGX untuk ASX secara tidak langsung telah mengacak-ngacak wilayah tersebut. "Konsensus (antara pejabat di bursa Asia sebelum adanya kesepakatan itu) ini menjadi suatu hal yang tidak memungkinkan di Asia karena adanya perbedaan budaya dan nilai-nilai," lanjutnya.
Saito menambahkan, jika kesepakatan itu benar-benar dilancarkan, maka bisa mengakibatkan kerugian bagi TSE, yang merupakan pemegang saham terbesar kedua SGX sebesar 4,9 persen.
"Kepemilikan saham kami akan terdilusi, di mana saham kami jatuh menjadi sekira 3,1 persen itu. Itu memungkinkan kita akan mengalami kerugian ratusan juta yen," katanya.
Seperti diberitakan sebelumnya, penggabungan dua bursa ini bertujuan untuk menciptakan bursa terbesar kelima di dunia dengan kapitalisasi pasar sekira USD12,3 miliar, meskipun tahap pertama harus lulus dari pihak regulator dan reaksi politik yang berkembang di Australia.
Para pengamat saham mengatakan ini bisa mencakup kepentingan besar pemerintah Singapura di SGX, yang dapat meningkatkan kekhawatiran kepemilikan secara berdaulat di mana komposisi dewan sebanyak 11 perwakilan Singapura dan empat dari Australia. (ade)